Opini Aktual

Selasa, 25 Desember 2018

Filosofi Seorang Hamba

Filsafat adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang lahir dari zaman dahulu kala semenjak era keemasan Yunani dan Romawi, dan kemudian berkembang kembali di Eropa pada zaman Renaissance ketika masyarakat Eropa saat itu mempertanyakan banyak hal tentang kebenaran, termasuk adalah mempertanyakan dominasi gereja yang terlampau kuat pada waktu itu. Pada dasarnya filsafat adalah salah satu cabang ilmu yang mempertanyakan kebenaran sesungguhnya dari sesuatu hal.

Ketika kita melihat kenyataan saat ini, bangsa-bangsa di belahan bumi utara jauh lebih maju dalam hal peradaban dan ilmu pengetahuan mereka di bandingkan dengan umat Islam yang kebanyakan berada di bumi bagian selatan, maka mungkin akan memancing pertanyaan filosofis: Benarkah Tuhan Maha Adil?

Ketika kita menemukan fakta, bahwa orang-orang Barat lah yang selama ini memperhatikan perkembangan iklim dunia yang mengkhawatirkan, bahwa orang-orang Barat lah yang selama ini memperhatikan kelestarian satwa-satwa langka, mulai dari pinguin di Antartika sampai dengan kawanan gajah di benua Afrika, maka mungkin akan memancing pertanyaan filosofis: Benarkah Umat Islam itu Rahmatan lil Alamin (membawa rahmat bagi seluruh alam)?

Ketika kita melihat, sekelompok umat Islam melakukan razia membabi buta terhadap masyarakat lainnya, bertindak anarkis dan intoleran, mengumpulkan massa dalam jumlah yang besar dan berteriak-teriak menghina atribut negara dan agama lainnya, maka mungkin akan memancing pertanyaan filosofis: Benarkah hal yang demikian itu adalah cerminan dari sikap seorang hamba?

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS 31:18)

Banyak dari umat Islam di negeri ini yang memiliki sikap yang tidak peduli terhadap pemeluk umat agama lainnya. Membicarakan kesalahan pemahaman pemeluk agama lain secara terbuka melalui pengeras suara di mimbar-mimbar khutbah ataupun ceramah di media massa. Mengemukakan kesalahan pemikiran agama lain di media-media sosial. Seakan-akan tidak peduli bahwa hal tersebut akan menyakiti hati umat agama lainnya. Tidak peka terhadap perasaan manusia lainnya. Berjalan di muka bumi ini dengan angkuh dan membanggakan diri karena merasa yang paling benar.

Benarkah hal yang demikian itu adalah wujud dan cerminan dari sikap seorang hamba?

Indonesia adalah salah satu negara yang sejarah dan budaya sosial masyarakatnya mengerti betul bagaimana sikap dan perilaku seorang hamba itu seharusnya. Seorang hamba adalah merendah, tidak sombong, tidak anarkis dan intoleran, tidak mendesak atau menebar keresahan. Seorang hamba adalah santun, bertutur kata lembut dan senantiasa siap membantu manusia lainnya. Seorang hamba selalu menunjukan sikap pasrah secara total kepada Tuhannya.

Benarkah kebanyakan sikap dari umat Islam di Indonesia saat ini sudah mencerminkan sikap dari seorang hamba? Tidak peduli apapun alasannya, sikap sombong itu adalah sikap yang paling utama dari iblis. (AK)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 21.21