Opini Aktual

Kamis, 27 Desember 2018

Mempergunakan Jasa Jin

Di dalam alam bangsa jin, maka menurut guru kita tidak ada istilah jin yang Islam. Karena sampai dengan saat ini belum pernah kita menemukan adanya jin yang membasuh air wudhu sebelum sembahyang, jin yang makan sahur sebelum puasa, atau jin yang membayar zakat atau pula jin yang ikut melempar zumroh di tanah suci Mekah.

Masing-masing makhluk Allah swt memiliki cara beribadahnya masing-masing yang berlainan. Hukum, aturan dan tata cara menjalan agama Islam adalah diperuntukan khusus untuk bangsa manusia, bukan untuk makhluk lainnya. Sehingga dengan demikian kita tidak akan menemukan ada katak Islam, atau ada harimau Islam, atau ada kucing Islam, dsb.

Jadi dalam masyarakat jin, yang ada adalah jin yang beriman dan jin yang tidak beriman. Jin yang beriman adalah jin yang taat kepada Allah swt, dan mereka itu menjaga jarak dengan manusia, sehingga sesuai dengan Ketentuan dan Ketetapan Allah swt jin yang beriman tidak akan bekerja sama atau mencampuri urusan manusia.

Sebaliknya jin yang tidak beriman, mereka gemar untuk bekerja sama dan mencampuri urusan dan keperluan manusia, dengan maksud untuk menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus serta untuk menambah dosa manusia.

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS 72:6)

Jadi, bolehkah kita mempergunakan jin dalam rangka memperlancar urusan kita? Jawabannya adalah Tidak. Karena pada akhirnya jin akan meminta imbalan kepada kita berupa sesuatu yang akan menambah kesalahan dan dosa kita.

Lalu, bolehkah kita mempergunakan jin Islam atau jin yang beriman untuk memperlancar urusan kita? Jawabannya adalah Tidak. Karena tidak ada jin yang Islam, dan tidak ada pula jin yang beriman yang mau ikut campur dengan urusan manusia.

Dasar dari semua hal-hal di atas tadi bukanlah berasal dari penafsiran suatu dalil, melainkan itu semua adalah kesimpulan yang diambil oleh guru kita setelah memahami dan menginvestigasi sendiri pengalaman yang bersinggungan dengan bangsa jin. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 13.59