Opini Aktual

Jumat, 28 Desember 2018

Menempatkan Hadits Pada Tempatnya

Kitab hadits bukan ditulis oleh Allah swt, bukan pula oleh Rasulullah saw, bukan pula oleh para sahabat-sahabat Rasulullah saw, tapi ditulis oleh beberapa orang ulama dan sarjana Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw. Kitab hadits tersebut ditulis sekitar abad ke-3 Hijriah atau sekitar 300 tahun setelah peristiwa hijrah.

Oleh karena kitab Hadits tersebut ditulis oleh manusia (bukan oleh Allah swt, bukan pula oleh Rasulullah saw), maka di dalamnya kita menemukan banyak sekali pertentangan dan perbedaan isi dan kandungannya. Perbedaan dan pertentangan inilah yang kemudian menjadi penyebab dari perbedaan pemahaman dan perbedaan mazhab dalam perkembangan sejarah umat Islam.

Misalnya saja dalam hal tata cara ibadah sholat, ada yang mengacu pada hadits bahwa sholat shubuh itu harus disertai dengan doa qunut. Tetapi ada pula umat Islam yang mengacu pada hadits lainnya yang menyatakan bahwa sholat shubuh tidak harus disertai dengan doa qunut. Demikian juga dalam hal-hal lainnya seperti jumlah rakaat sholat tarawih, gerakan telunjuk pada saat duduk membaca tahiyat dalam sholat, dan seterusnya sampai dengan perbedaan dalam azan sholat shubuh.

Berbeda dengan al-Quran, maka di dalam kitab al-Quran yang diciptakan oleh Allah swt itu tidak kita temukan adanya pertentangan dan perbedaan di dalamnya.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka tidakkah mereka menghayati(merenungi) Al Quran? Sekiranya Al Quran itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS 4:82)

Sebaliknya kitab Hadits, oleh karena ditulis oleh manusia maka wajar saja di dalamnya kita temukan banyak sekali perbedaan dan pertentangan antara satu dengan yang lainnya.

Oleh karena sifat dari kitab Hadits yang demikian itulah, maka guru kita berpendapat bahwa kitab Hadits harus ditempatkan pada tempatnya dengan benar: yaitu menjelaskan tata cara ibadah, menjelaskan dengan lebih rinci pada Hukum Allah yang tertuang dalam al-Quran serta Sunnah Nabi. Tidak lebih dari itu.

Kitab Hadits tidak dapat dipergunakan sebagai dasar hukum, karena hukum fiqh dan syariat Islam itu seharusnya hanya mengacu kepada kitab al-Quran dan Sunnah Rasul saja. Demikian juga guru kita menyatakan bahwa kitab Hadits itu tidak bisa dijadikan dasar aqidah Islam, karena dasar aqidah Islam itu harus sepenuhnya merujuk kepada al-Quran dan Sunnah Rasul.

Bayangkan apabila kitab Hadits dipergunakan oleh umat Islam saat ini sebagai dasar aqidah, maka boleh jadi umat Islam akan terpecah belah karena adanya perbedaan aqidah akibat dari perbedaan referensi haditsnya. Bayangkan apabila kitab Hadits dipergunakan oleh umat Islam saat ini sebagai sumber hukum Islam, maka boleh jadi umat Islam akan terpecah belah karena perbedaan hukum Syariat Islam akibat dari perbedaan referensi haditsnya.

Pada hari ini, ada usaha dari beberapa oknum umat Islam yang berusaha menempatkan kitab Hadits lebih dari yang seharusnya. Sehingga muncul gerakan aqidah dan gerakan penerapan hukum Islam berdasarkan kepada kitab Hadits tersebut. Maka akibatnya adalah pada hari ini kita menyaksikan munculnya suatu fenomena perpecahan dalam umat Islam yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Cukup sudah umat Islam saat ini terpecah oleh berbagai mazhab dan aliran karena adanya perbedaan dalam tata cara beribadah dan tata cara menerapkan hukum Allah dan Sunnah Rasul. Cukup sudah bahwa umat Islam saat ini terpecah belah pada tata caranya saja. Cukup sampai disitu.

Guru kita mengajak seluruh umat Islam untuk kembali kepada al-Quran dan Sunnah Rasul sebagai dasar hukum Islam dan sebagai dasar aqidah umat. Itulah dasar yang kuat dan tidak ada perbedaan atau pertentangan di dalamnya. Itulah dasar bagi persatuan umat Islam seluruh dunia. Maka sadarilah hal itu wahai saudara-saudaraku. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 16.53