Opini Aktual

Senin, 31 Desember 2018

Dasar Aqidah Islam

Guru kita mengusulkan agar yang dijadikan dasar aqidah bagi umat Islam adalah al-Quran dan Sunnah Rasul. Bukan dari kitab hadits.

Bukannya tidak menuruti perintah dan aturan dari Rasulullah saw, akan tetapi pada hari ini sulit sekali rasanya membuktikan bahwa semua yang tercantum dalam kitab hadits yang ada saat ini adalah benar-benar dari Rasulullah saw.

Apabila kita membuka ayat-ayat suci al-Quran ataupun sunnah Rasulullah saw, maka kita tidak akan menjumpai adanya keterangan tentang metode dan alat yang bisa dipergunakan untuk mem-verifikasi bahwa suatu pernyataan dalam kitab hadits adalah benar-benar berasal dari Rasulullah saw atau bukan.

Paling tidak ada 4 point utama yang harus diverifikasi kebenarannya apabila kita membaca suatu hadits. Pertama, bagaimana kita membuktikan bahwa suatu hadits adalah benar-benar berasal dari Rasulullah saw atau bukan? Kemudian, kepada siapakah pernyataan Rasulullah saw tersebut diucapkan? Apa latar belakang dan sebab musabab suatu pernyataan tersebut diucapkan oleh Rasulullah saw? Apa tujuan dari hadits atau pernyataan Rasulullah saw tersebut diucapkan?

Tanpa memiliki verifikasi terhadap 4 point utama tersebut di atas, maka pengetahuan kita terhadap suatu hadits adalah sangat minim, dan boleh jadi kita akan terjebak dalam kekeliruan.

Berikut ini adalah salah satu contoh dari hadits yang telah dinyatakan shahih oleh para ulama hadits.

Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, "(Neraka) jahanam masih saja berkata, 'apakah ada tambahan' hingga akhirnya Tuhan Pemiliki Kemuliaan meletakkan kaki-Nya. Kemudian dia berkata, cukup, cukup, demi kemuliaan-Mu. Lalu neraka satu sama lain saling terlipat."

Hadits tersebut di atas tercantum dalam kumpulan hadits shahih Bukhari dan kitab hadits shahih Muslim (HR. Bukhari no. 6661 dan Muslim no. 2848).

Bagi kita orang awam, hadits tersebut di atas secara gamblang menyatakan bahwa Allah swt memiliki kaki. Hal seperti inilah yang mengakibatkan hadits tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dasar ber-aqidah, karena menerima pemahaman bahwa Allah swt memiliki kaki merupakan suatu kerusakan aqidah. Hadits tersebut juga bertentangan dengan ayat al-Quran yang menyatakan bahwa tidak ada satupun yang serupa dengan Allah swt.

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ
يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS 42:11)

Untuk memahami hadits tersebut di atas tadi secara benar adalah sangat sulit sekali, mungkin diperlukan pengetahuan seorang ahli hadits untuk dapat memahaminya dengan benar. Oleh sebab itu maka kita sepakat kalau hadits tersebut tadi tidak diperuntukan untuk orang awam, karena akan berpotensi dapat merusak pemahaman aqidah Islam.

Dengan demikian, maka sungguh diperlukan kewaspadaan dalam menerima suatu hadits tertentu. Benarkah hadits tersebut berasal dari perkataan Rasulullah saw?

Guru kita mengusulkan agar yang dijadikan dasar aqidah bagi umat Islam adalah al-Quran dan Sunnah Rasul. Bukan dari kitab hadits. Contoh di atas adalah merupakan penjelasan mengapa usul dari guru kita tersebut layak untuk dipertimbangkan. Demi untuk menjaga kemurnian aqidah dan pemahaman yang benar. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.42