Opini Aktual

Selasa, 01 Januari 2019

Beberapa Hadits Bukan Untuk Umum

Pernah melihat permainan ‘Pesan Berantai’ ? Meskipun kita jejerkan orang-orang yang kita yakini sebagai orang jujur dan pintar, maka suatu informasi atau ucapan awal akan sangat mudah sekali terdistorsi dari pesan aslinya. Nah, demikian juga halnya dengan hadits, ucapan Rasulullah saw yang diteruskan secara berantai melintasi beberapa generasi selama kurang lebih 300 tahun lamanya, maka sangat sulit sekali untuk menjamin bahwa ucapan dan pesan awalnya tidak terdistorsi. Apalagi kalau pesan tersebut tidak tertulis dan terdokumentasi dengan baik.

Bahkan ada beberapa hadits yang ternyata tidak cocok diperuntukan untuk umum, karena sangat sulit untuk dimengerti dan memerlukan pemahaman yang rumit agar supaya terhindar dari kesalahan pemahaman. Oleh sebab itu maka diperlukan suatu kebijakan dari para ulama dan ahli hadits agar supaya beberapa hadits yang sulit untuk dipahami oleh orang awam agar supaya ditandai dan diberikan suatu catatan peringatan demi untuk menghindari kekeliruan pemahaman.

Berikut ini adalah beberapa hadits yang sepintas terlihat seperti kontroversial dan mudah sekali untuk disalahartikan oleh masyarakat awam dan mengakibatkan kekeliruan pemahaman.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw berkata kepada bapa saudaranya Abu Thalib:" Katakanlah 'La ilaha ilallah' dan dengan ini aku akan menjadi saksi di hari kiamat. Abu Thalib menjawab:' Andaikata saja kaum Quraish tidak mengejekku dan mengatakan; Dia di paksa melakukannya! maka aku akan mengucapkan perintahmu. Maka Allah swt menurunkan ayat,' Engkau tidak dapat memeberi hidayat kepada siapa yang engkau sukai, tapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki." Kontroversi dari hadits ini adalah bahwa Abu Thalib wafat 3 tahun sebelum Hijrah, sedangkan Abu Hurairah datang dari Yaman ke Madinah untuk masuk Islam 7 tahun setelah peristiwa Hijrah. Jadi bagaimana mungkin beliau bisa menjadi saksi mata dalam periwayatan hadits tersebut?

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw berkata: "Allah mencipta Adam seperti bentuk(shurah) Allah, dengan panjang enam puluh hasta (27 meter)." (Bukhari, Sahih, kitab I'tizam. jilid 4 hlm 57: Muslim , Shahih bab Masuk Syurga, jilid 2 hlm 481). Hadits tersebut di atas adalah bertentangan dengan ayat al-Quran yang menyatakan bahwa tidak ada satupun yang serupa dengan Allah swt.

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ
يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS 42:11)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw berkata: “Bila Allah memerintahkan Malaikat Maut untuk mencabut nyawa Nabi Musa as. Nabi Musa as menampar Malaikat Maut hingga keluar sebelah biji matanya. Malaikat Maut kembali mengadu pada Allah swt. Maka Allah pun kembalikan biji mata Malaikat Maut dan diperintah kembali menemui Nabi Musa as…..”(Muslim dalam Sahih, bab keutamaan Nabi Musa, Kitab Fadha’il, jilid 2, hlm 309. Bukhari dalam Sahih bab Wafatnya Nabi Musa dalam kitab penciptaan, jilid 2, hlm 163). Hadits tersebut terlihat kontroversial: apakah seperti itu tabiat dan akhlak seorang Rasul Allah swt terhadap malaikat-Nya?

Sebenarnya masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang terkesan kontroversial dan sepertinya tidak mungkin diucapkan oleh Rasulullah saw. Oleh sebab itu maka bagi orang-orang awam seperti kita berhati-hatilah untuk memahaminya. Hadits-hadits tersebut di atas tadi, sangat sulit untuk dipahami, meskipun oleh seorang ahli hadits sekalipun.

Oleh sebab itu lah, maka guru kita mengusulkan agar supaya aqidah Islam kita terjaga kemurniannya, maka cukuplah al-Quran dan Sunnah Rasul saja yang dijadikan dasarnya. Beberapa hadits seperti yang dicontohkan di atas tadi akan memiliki potensi untuk salah dipahami dan akan menyebabkan rusaknya aqidah dan pemahaman Islam kita. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 01.23