Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 18 September 2015

Mari Melihat Kebesaran Allah

Pada suatu siang di bulan Ramadhan pada sebuah surau, seperti biasa terdapat beberapa orang yang sedang membaca al-Quran. Mereka dengan giatnya membaca ayat-ayat al-Quran dengan maksud ingin mengejar target untuk menyelesaikan khatam al-Quran selama bulan Ramadhan. Sedemikian tekunnya orang-orang tersebut berpendapat bahwa setiap huruf al-Quran yang dibaca akan mendapat pahala.

Apakah membaca al-Quran seperti itu saja sudah cukup?

Dalam al-Quran Allah memerintahkan kita untuk melakukan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana kesudahan dari kaum yang mendustakan Rasul Allah. Sebagaimana firman Allah berikut ini :
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (Rasul-Rasul).” (QS 3:137)

Atau di ayat yang lainnya Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنْ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لآياتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS 2:164)

Dalam firman Allah tersebut di atas, Allah menyebut kata-kata ‘Ayat Allah’ dengan bentangan alam dan pemikiran tentang kejadian yang terjadi di alam semesta. Jadi alam semesta, langit dan bumi, siklus air hujan dan pergerakan angin dan awan, itulah juga ayat Allah. Kita menyebutnya sebagai ayat kauniyah.

Nah, ayat kauniyah inilah yang harus dikaji. Kita sering lupa, menganggap bahwa hanya ayat kauliyah yang tertulis dalam mushaf al-Quran saja yang harus di-ngaji-kan.

Apabila anda melihat ke atas cakrawala, di sana terlihat ribuan, jutaan bintang, planet, dari berbagai galaksi. Jauh sekali dan luas sekali alam semesta ini, sampai-sampai mata kita tidak mampu melihat batas ujungnya, bahkan dengan teleskop yang paling canggih sekali pun. Betapa luasnya.

Apakah anda tahu bahwasanya, dulu waktu pertama kali Allah menciptakan alam semesta, itu bermula dari sesuatu yang tidak lebih besar dari bola tenis? Bayangkan seluruh alam semesta ini bermula dari sesuatu sebesar bola tenis.

Tahukah anda bahwasanya langit itu luas sekali, kalau anda menatap ke atas maka anda tidak akan pernah bisa melihat batas dari langit itu? Tidak ada batas dari langit itu. Dengan demikian jangan lagi anda menunjuk ke atas untuk menunjukan posisi dari tempat Allah berada, karena Allah bukan berada di atas langit sana.

Akan tetapi, karena kebanyakan dari kita lebih berat mengaji ayat kauliyah saja, tidak pernah meng-kaji ayat kauniyah, maka kita tidak pernah mengerti itu semua.

Ironis bukan? Kaum yang banyak mengaji ternyata bukan kaum yang berfikir.

Model alam semesta yang tanpa batas ini diukur oleh NASA, oleh Freidmann – Lemaitre – Robertson – Walker (FLWR), sehingga apabila anda berjalan lurus di alam semesta ini maka pada suatu waktu di kemudian hari anda akan sampai justru di tempat anda bermula dulu.

Orang yang pertama kali memikirkan tentang awal penciptaan langit dan bumi sebagaimana QS 2:164 tadi adalah Edwin Hubble. Dia lah yang menemukan teori Big Bang, yaitu penciptaan langit dan bumi pertama kali. Edwin Hubble adalah orang Amerika Serikat, bukan orang Islam.

Oleh karena itu, dalam salah satu kesempatan pengajian, guru mengajak kita untuk meng-kaji alam semesta ini untuk melihat kebesaran Allah swt. Caranya yaitu dengan meng-kaji ayat kauniyah, bukan dengan mengaji ayat kauliyah saja.

Siang itu di sebuah surau, iqomat sudah dikumandangkan dan Shalat dhuhur akan segera dimulai. Jamaah mulai berbaris di balakang imam. Imam shalat berteriak lantang:
“Luruskan hati dan pikiran hanya kepada Allah saja.”
“Tidak perlu berjejal dan berdesak-desakan, yang penting bisa nyaman agar supaya shalat kita khusuk”
“Karena syarat sempurnanya shalat adalah Khusuk.” (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.59