Opini Aktual

Rabu, 02 Januari 2019

Belajar Dari Sejarah

Sejarah perjalanan ajaran agama Tauhid semenjak Nabi Ibrahim as sampai dengan Nabi terakhir Muhammad saw telah banyak mengalami pertentangan dan penyelewengan yang dilakukan oleh pemeluknya. Dimulai dari kaum Yahudi yang memutarbalikan ajaran Nabi Musa as dan para Nabi-Nabi sesudahnya, sampai dengan umat Nasrani yang menyelewengkan ajaran Nabi Isa as. Mereka merubah dan menambahkan isi dari kitab Injil untuk kepentingan tertentu, sehingga seolah-olah apa yang mereka tambahkan itu berasal dari Allah swt padahal kenyataannya bukan.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ
فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS 2:79)

Dalam sejarahnya, kitab Injil tersebut dihimpun dan dituliskan kembali antara 50 sampai dengan 100 tahun sepeninggal Nabi Isa as oleh beberapa orang (Markus, Matius, Lukas dan Yohanes) dan kemudian disahkan oleh gereja menjadi bagian dari kitab Perjanjian Baru. Di dalam proses penghimpunan dan penulisan kembali itulah terdapat beberapa perubahan dan penambahan dari kalimat asli al Kitab sebagaimana yang dinyatakan oleh ayat al-Quran di atas.

Belajar dari sejarah kesalahan tersebut itulah, maka kemudian Nabi Muhammad saw melarang para sahabat-sahabatnya untuk menuliskan segala perkataan dan perbuatan beliau (hadits Nabi), kecuali hanya kitab al-Quran saja.

Namun kemudian setelah 300 tahun sepeninggal Nabi Muhammad saw, beberapa orang sarjana Islam menghimpun dan menuliskan kembali hadits-hadits Nabi. Dalam proses penghimpunan dan penulisan hadits itulah maka kemudian didapati adanya penambahan dan pemutarbalikan kalimat. Sehingga akhirnya kita dapati adanya ratusan ribu hadits palsu dan hadits yang lemah (dhaif), bahkan hadits-hadits yang bertentangan dengan al-Quran.

Berikut ini adalah contoh dari hadits-hadits palsu yang banyak beredar di kalangan umat Islam dan dikira bahwa hadits-hadits tersebut adalah benar-benar dari Rasulullah saw, padahal kenyataannya bukan.

“Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup akan selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”. Ini bukanlah sabda Nabi Rasulullah saw, karena di dalamnya terdapat inqitho’ (keterputusan) antara rawi dari sahabat dengan sahabat Abdullah bin Amer.

“Perselisihan Umatku adalah Rahmat.” Hadits ini tak ada asalnya. Para ahli hadits telah mengerahkan tenaga untuk mendapatkan sanadnya, namun tak ditemukan sanadnya.

”Jika seorang hamba telah menamatkan Al Qur’an, maka akan bershalawat kepadanya 60.000 malaikat ketika ia menamatkannya”. Hadits ini palsu disebabkan oleh rawi yang bernama Al-Hasan bin Ali bin Zakariyya, dan Abdullah bin Sam’an, kedua orang ini, adalah pendusta, biasa memalsukan hadits.

“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah -Azza wa Jalla- adalah talak“. Hadits ini adalah hadits yang mudhtharib (goncang) sanad-nya.

Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa menunaikan haji ke Baitullah dan tidak berziarah (mengunjungiku) maka ia telah menjauhiku.” Menurut Albani hadis ini maudhu’.

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.” Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).

Nah, belajar dari kesalahan dalam sejarah penulisan kitab Injil sebelumnya, maka hal yang sama bisa juga terjadi dalam hal penulisan kitab hadits. Ditulis setelah puluhan bahkan ratusan tahun sepeninggal Nabi, ditulis oleh manusia yang tidak memiliki mekanisme validasi terhadap kebenaran isinya, dan ditemukan adanya upaya pemalsuan serta pemutarbalikan kalimat, maka kejadian dan peristiwa yang terjadi pada penulisan Injil kembali terjadi pada proses penulisan kitab hadits.

Sejarah berulang, dan kembali terbukti bahwa syaithan telah mempergunakan strategi yang sama dalam merubah isi dan menambahkan kalimat palsu dalam kitab Injil dan kitab Hadits. Tidak ada yang baru sama sekali, ini adalah cerita lama yang berulang.

Sudah menjadi kewajiban bagi para ulama zaman sekarang untuk menyaring dan memilah kalimat mana saja yang memang benar-benar berasal dari perkataan Rasulullah saw. Jangan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh para ahli kitab dan orang-orang alim dari kaum Yahudi dan Nasrani dahulu. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.43