Opini Aktual

Senin, 07 Januari 2019

Beribadah Dengan Ikhlas

Salah satu bentuk kekeliruan sikap dalam beribadah akibat dari memahami ibadah hanya berdasarkan penafsiran terhadap suatu dalil semata ialah hilangnya nilai-nilai keikhlasan dalam beribadah.

Banyak dari umat Islam saat ini yang memiliki pemahaman, bahwa ibadah yang dilaksanakan itu hanyalah diperuntukan bagi kehidupan di dunia ini saja. Kelak di akhirat nanti, maka tidak ada lagi kewajiban untuk beribadah.

Oleh sebab itulah maka kebanyakan dari ulama ahli tafsir kitab yang diikuti oleh kebanyakan umat Islam saat ini, mereka menafsirkan kata yakin dalam ayat al-Quran berikut ini sebagai ajal atau kematian.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS 15:99)

Oleh karena menafsirkan bahwa ibadah itu hanyalah di dunia ini saja, maka nanti di akhirat setelah masuk surga orang-orang Islam hanyalah menikmati kesenangan dan berfoya-foya saja. Bahkan akibat dari penafsiran dan pemahaman yang seperti ini maka kemudian muncullah hadits-hadits berikut ini yang berbau ‘dewasa’ dan tidak pantas didengarkan oleh anak-anak.

“Seorang mukmin di surga diberi kekuatan untuk berjimak sekian dan sekian”, maka dikatakan, “Wahai Rasulullah, apakah ia mampu?”. Rasulullah berkata, “Ia diberi kekuatan 100 orang dalam berjimak.” [HR. At-Thirmidzi no 2536 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani]

“Sesungguhnya seorang penghuni surga sungguh akan memeluk bidadari selama 70 tahun, ia tidak bosan dengan bidadari tersebut dan sang bidadari juga tidak bosan dengannya, setiap kali ia menjimaknya ia mendapati sang bidadari kembali perawan, dan setiap kali ia kembali kepada sang bidadari maka syahwatnya akan kembali. Maka iapun menjimak bidadari tersebut dengan kekuatan 70 lelaki, tidak ada mani yang keluar dari keduanya, ia menjimak bidadari tanpa keluar mani, dan sang bidadari juga tidak keluar mani.” [Tafsiir Al-Qurthubi 15/45]

Apakah hadits-hadits tersebut di atas adalah benar-benar dari Rasulullah saw? Wallahu Alam.

Namun demikian tergambar jelas i’tikad dari kebanyakan umat Islam saat ini bahwa kelak nanti di surga mereka akan melepaskan beban beribadah yang mereka lakukan selama hidup di dunia ini, dan menggantinya dengan kesenangan yang terus menerus di surga. Memeluk bidadari selama 70 tahun lamanya, dan ‘menggaulinya’. Bebas dari kewajiban dan keinginan untuk beribadah memuji Allah swt.

Menurut penulis pemahaman dan i’tikad semacam ini tidak benar. Beribadah di dunia ini bukanlah termasuk sesuatu beban, ataupun kewajiban yang harus dengan terpaksa kita lakukan karena mengharapkan surga. Ibadah yang seperti itu bukanlah ibadah yang diterima Allah swt, karena ibadah yang diterima Allah swt adalah ibadah yang dilakukan dengan ikhlas. Ikhlas melakukannya di dunia ini, demikian juga ikhlas melakukannya di akhirat nanti. Ikhlas kapan saja.

فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ
“Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS 5:85)

Menurut pemahaman penulis, bahwa kedudukan seorang hamba tetaplah hamba kapan pun juga. Di dunia ini maupun di akhirat nanti. Oleh karena hamba, maka sikap dan I’tikad seorang hamba kepada Khalik Sang Pencipta akan senantiasa melekat.

Ibadah bisa dalam bentuk apa saja, sesuai dengan zaman dan kondisinya. Tetapi tujuan dari setiap penciptaan Jin dan Manusia, ialah hanya untuk beribadah kepada Allah swt. Ibadah dengan tulus dan ikhlas, bukan lantaran ingin masuk surga sehingga kemudian bisa bersenang-senang dan melupakan-Nya.

Demikianlah maksud dari perkataan guru kita, yang melarang murid-muridnya melaksanakan ibadah karena semata-mata mengharapkan masuk surga. Sehingga mengakibatkan kekeliruan dalam i’tikad dan pemahamannya. Bahwa ibadah itu haruslah dilakukan secara tulus dan ikhlas, bukan karena keterpaksaan atau karena ingin menunaikan kewajiban dan mendapat pahala berupa surga. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.54