Opini Aktual

Senin, 14 Januari 2019

Membahagiakan Istri

Pada suatu malam pengajian, guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya untuk senantiasa membahagiakan istri. Karena dalam sebuah rumah tangga, seorang istri lah yang dipercayakan amanah dari Allah swt, yaitu berupa mengandung, melahirkan dan membesarkan anak dan keturunan. Bukan suami.

Selain itu guru kita juga menganjurkan kepada murid-muridnya untuk hanya memiliki seorang istri saja. Pendapat beberapa ustadz dan ulama yang selama ini menyatakan bahwa berpoligami, memiliki lebih dari satu istri merupakan Sunnah Nabi adalah sebuah pembohongan. Allah swt dan RasulNya tidak pernah memerintahkan agar umat Islam memiliki lebih dari satu istri, karena yang demikian itu akan mengakibatkan kesedihan dan penderitaan kepada istri yang dipoligami suaminya.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS 4:3)

Bagi beberapa orang, mereka lebih menekankan kalimat “kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” Sedangkan bagi seorang yang beriman dan beramal sholeh, mereka lebih memperhatikan kata-kata adil dan kalimat “Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Yang demikian itu adalah untuk menjaga kehati-hatian dan lebih selamat dunia dan akhirat.

Berdasarkan hal inilah, maka kemudian guru kita memperingatkan murid-muridnya untuk tidak berbuat aniaya terhadap istri mereka. Jadi cukup satu istri saja, lalu bahagiakan lah istri sebisa-bisanya.

Jadi dengan demikian, stop! Jangan berdalil dan menggunakan Sunnah Nabi sebagai alasan untuk berpoligami. Apa yang dilakukan oleh Nabi saw adalah menanggulangi luka dan keadaan yang terjadi pada kondisi masyarakatnya di saat itu. Kondisi yang sama tidak pernah terulang lagi saat ini. Jadi janganlah berbuat aniaya dan melukai perasaan istri dengan dalih agama. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.39