Opini Aktual

Senin, 21 Januari 2019

Prinsip Kehati-hatian

Di zaman sekarang ini banyak sekali perkara yang belum pernah atau belum jelas ketetapan hukumnya oleh karena memang sebelumnya perkara tersebut belum pernah ada. Akibat perkembangan teknologi maka terjadilah pergeseran kondisi sosial dan budaya masyarakat.

Seperti misalnya dalam hal jual beli. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa salah satu aturan syariat Islam dalam rukun jual beli ialah: selain harus ada pedagang, pembeli dan barang yang diperjualbelikan, maka harus ada semacam ijab kabul transaksi jual beli tersebut.

Nah, di zaman yang serba modern seperti sekarang ini masyarakat sudah terbiasa membeli di alat vending machine. Anda memasukan sejumlah uang, maka kemudian barang yang diinginkan akan keluar dari kotak vending machine tersebut. Anda memasukan sejumlah uang, maka kemudian tiket kereta akan keluar secara otomatis. Dalam hal belanja online, anda mentransfer sejumlah uang, maka kemudian barang yang diinginkan akan terkirim ke alamat anda. Tidak ada ijab kabul dan tidak ada pernyataan kesepakatan antara penjual dan pembeli. Penjual tidak tahu siapa pembelinya, begitu juga sebaliknya.

Selain contoh-contoh kasus di atas, masih banyak lagi contoh lainnya yang belum memiliki status hukum syariat Islam yang jelas, seperti misalnya melakukan akad nikah jarak jauh melalui video conference, apakah hal ini dibenarkan atau tidak belum jelas hukumnya. Melakukan jual beli tanpa ada barang yang diperjualbelikan, jadwal waktu sholat dan puasa di daerah kutub atau di stasiun ruang angkasa, dst.

Semua perkara-perkara tersebut belum pernah dikaji dan diputuskan oleh para ulama sekarang, sehingga apa status hukumnya dalam syariat Islam masih belum jelas. Oleh karena belum jelas, maka hal tersebut termasuk kedalam perkara-perkara yang bersifat syubhat.

Oleh guru kita dianjurkan untuk menghindari setiap perkara-perkara yang masih bersifat syubhat. Inilah prinsip kehati-hatian dalam berakhlak yang baik. Akhlaqul Karimah.

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَان بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الَحرَامَ بَيِّنٌ و
َبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى ا
لشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ
وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ
أَلاَّ وِإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ
مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ
كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ – رَوَاهُ البُخَارِي وَمُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat–yang masih samar–yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599]

Hari ini kita umat Islam semuanya masih menunggu hasil dari ketetapan semua ulama terhadap banyak perkara-perkara baru tersebut. Ini adalah tanggung jawab dan kewajiban bagi para ulama saat ini yang harus ditunaikan. Apabila tidak dilaksanakan, maka mereka para ulama itulah yang akan pertama kali dimintai pertanggung jawabannya nanti di akhirat.

Adapun bagi kita umat Islam, maka lebih baik bersikap menjaga kehati-hatian dan menghindari perkara-perkara yang syubhat. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.59