Opini Aktual

Rabu, 30 Januari 2019

Tidak Ada Paksaan Dalam Beragama

Tidak ada paksaan dalam beragama adalah sebuah prinsip, prinsip Allah swt. Jadi apabila ada aturan manusia yang memaksakan atau melakukan suatu kekerasan dalam hal beragama, maka hal itu adalah bertentangan dengan prinsip Allah swt tersebut.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan dalam beragama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:256)

Baru-baru ini kita mendengar sebuah berita, seorang gadis dari Arab Saudi melarikan diri dari keluarganya dan kemudian tertahan di Bangkok untuk mencari suaka. Gadis tersebut meminta pertolongan kepada dunia internasional untuk tidak dideportasi kembali ke Arab Saudi karena dia telah berpindah keyakinan keluar dari agama Islam, dan ancaman hukuman di Arab Saudi adalah hukuman mati. Aturan yang ketat bagi perempuan di Arab Saudi mengakibatkan gadis tersebut juga telah menerima banyak sekali hukuman dan kekerasan fisik dari orang tuanya. Akhirnya kemudian gadis tersebut diterbangkan ke Kanada untuk mengurus pemberian suaka bagi dirinya.

Bolehkah kita menerapkan aturan hukum Syariat Islam yang akan menjatuhkan hukuman mati bagi siapa saja yang murtad? Jawabannya adalah tidak boleh. Karena setiap manusia bebas untuk menentukan pilihan keyakinannya masing-masing, sesuai dengan prinsip Allah swt tersebut di atas. Menerapkan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad adalah bertentangan dengan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama, prinsip Allah swt tersebut.

Demikian juga memaksakan keyakinan dan keimanan kepada anggota keluarga sendiri pun dilarang oleh guru kita. Apalagi kalau sampai melalui kekerasan fisik. Tugas kita hanyalah menyampaikan keimanan dan keyakinan itu secara hikmah dan bijaksana, sehingga dengannya itu gugurlah kewajiban kita untuk menyampaikan. Tidak lebih dari itu.

Melakukan sweeping dan razia di siang hari terhadap rumah-rumah makan pada saat bulan Ramadhan, juga termasuk kegiatan yang bertentangan dengan prinsip Allah swt tersebut. Karena sebenarnya memang tidak ada paksaan dalam menjalankan puasa.

Bahkan sebenarnya tidak semua orang diwajibkan berpuasa. Orang-orang non-muslim, wanita yang sedang berhalangan dan orang-orang dalam perjalanan jauh, mereka itu sering kali kesulitan dalam memperoleh makanan di siang hari saat bulan Ramadhan, karena tidak ada rumah makan yang berani buka. Apakah orang-orang seperti itu harus terpaksa berpuasa karenanya?

Prinsip kebebasan dalam beragama dan berkeyakinan tersebut sebenarnya telah ada di dalam nilai-nilai luhur Pancasila yang disepakati oleh para pendiri negara ini. Tidak boleh memaksakan keyakinan agama kepada orang lain. Namun sayang, pada hari ini ada beberapa kelompok dari umat Islam di negeri ini yang memendam keinginan dan rencana untuk merubah dasar negara kita itu dengan hukum Syariat Islam.

Menerapkan hukum Syariat Islam di Indonesia tentu saja tidak akan disetujui oleh sebagian masyarakat non-muslim di negeri ini. Apakah kemudian kita tetap akan memaksakannya dan meminta mereka non-muslim untuk menerimanya? Bukankah hal ini justru bertentangan dengan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama?

Seringkali kita mengira, bahwa memperjuangkan pendirian negara Islam di negeri ini, pemberlakuan hukum Syariat Islam adalah sebuah perjuangan suci, jihad fi sabilillah. Padahal hal tersebut pada akhirnya ternyata bertentangan dengan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama. Bertentangan dengan prinsip Allah swt. Jadi jelas hal tersebut bukanlah merupakan jihad fi sabilillah, melainkan jihad fi tafsiriyah (jihad dalam penafsirannya sendiri). (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.59