Opini Aktual

Sabtu, 06 Juli 2019

Membersihkan Masjid Dari Berhala

Menurut definisi Allah swt sebagaimana yang tercantum di dalam al-Quran, berhala adalah sesuatu sesembahan manusia yang diada-adakan sendiri selain dari pada Allah swt tanpa ada pengetahuan ataupun perintah dari Allah swt.

Dahulu, ketika terjadi peristiwa Futhul Mekkah, pada tanggal 20 Ramadhan tahun 8H, yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah saw adalah membersihkan Kabah dari berhala-berhala. Tidak kurang dari 360 berhala di sekeliling dan di dalam Kabah dihancurkan. Termasuk berhala di dalam Kabah yang bergambar Nabi Ibrahim as dan putera-puteranya yang sedang memanah.

Sembari menghancurkan berhala-berhala tersebut, Rasulullah saw tak henti-hentinya membacakan ayat al-Quran berikut ini:

قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ
“Katakanlah: "Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (QS 34:49)

Nah, pada hari ini kita menyaksikan hal yang sama terulang kembali, yaitu kita dapati di masjid-masjid beberapa ornamen yang bisa digolongkan menjadi berhala. Seperti misalnya gambar simbol bulan dan bintang di menara masjid. Itu bukan berasal dari ajaran Rasulullah saw, karena simbol bulan dan bintang itu berasal dari masa kerjaan Turki yang mengadopsi simbol itu dari lambang dewi bulan ketika bangsa romawi berkuasa.

Bentuk berhala lainnya adalah simbol atau logo tulisan Allah dan Muhammad di dalam masjid. Sebagaimana kita semua mengetahui, bahwasanya Rasulullah saw mengajarkan kepada kita semua bahwa Allah swt itu Maha Ghaib, tidak bisa dilihat dengan mata dan tidak ada pula yang dapat menyerupaiNya. Tidak berbentuk wujud sesuatu atau pun huruf. Sehingga dengan demikian simbol ataupun huruf Allah yang terdapat di mimbar-mimbar masjid itu, bukanlah Allah swt itu sendiri.

Dikhawatirkan bahwa simbol dan tulisan tersebut bisa disalahartikan atau dimaknai berbeda, dan terjerumus kedalam bentuk berhala baru. Oleh sebab itulah maka guru kita menerangkan agar sebaiknya tidak perlu ada gambar atau simbol Allah dan Muhammad di dalam masjid. Cukup kaligrafi ayat al-Quran atau hiasan lainnya yang tidak mengarah kepada pembentukan berhala baru. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 11.12