Opini Aktual

Minggu, 06 November 2022

Maryam Wanita Suci

Ini adalah gambar seorang wanita bernama Maryam, yang menjadi simbol dari wanita suci dan dihormati oleh semua agama samawi, termasuk didalamnya adalah Islam.Gambar tersebut merupakan hasil dari lukisan abad modern yang merupakan tiruan dari gambar aslinya yaitu Panagia Protaitissa yang digambar oleh Lukas secara langsung dihadapan Maryam sendiri semasa hidupnya.

Dan kemudian berikut ini adalah perkataan malaikat Jibril yang diutus Allah swt dan direkam dalam kitab suci al-Quran di hadapan Maryam:

وَاِذۡ قَالَتِ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ يٰمَرۡيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصۡطَفٰٮكِ وَطَهَّرَكِ وَاصۡطَفٰٮكِ عَلٰى نِسَآءِ الۡعٰلَمِيۡنَ
“Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala wanita di seluruh alam.” (QS 3:42)

Jadi Maryam di dalam agama Islam merupakan wanita yang suci dan Allah swt melebihkannya di atas segala wanita di seluruh alam. Bahkan namanya dijadikan sebagai salah satu nama surat di dalam al-Quran yaitu surat ke-19, surat Maryam. Di dalam surat tersebut diceritakan beberapa kisah tentang nabi dan rasul seperti Zakariya as, Yahya as, Ibrahim as, Musa as dan yang juga tidak kalah pentingnya adalah kisah tentang Maryam, wanita suci yang kemudian mengandung bayi Isa as. Satu-satunya wanita yang demikian rinci diceritakan kisahnya di dalam al-Quran yang banyak sekali menceritakan tentang kaum laki-laki. Hikmah dibalik ini barangkali adalah agar supaya kaum wanita di zaman sesudahnya harus mencontoh ketaatan dan kesucian dari Maryam dalam beribadah dan mengemban tugas dari Allah swt.

Baiklah, mari kita lihat lagi gambar Maryam tersebut, apakah ada yang janggal? Coba anda perhatikan kembali sekali lagi, apakah ada yang janggal? Ya benar, Maryam tidak memakai jilbab. Rambutnya yang setengah ikal itu jelas terlihat dibalik kerudungnya yang sederhana.

Diantara seluruh wanita di alam raya ini, justru Allah swt memilih wanita ini, Maryam, seorang wanita yang tidak memakai jilbab. Mengapa?

Saudara-saudaraku sekalian, marilah kita sejenak mempergunakan akal sehat kita, sebagaimana Allah swt memerintahkan di dalam al-Quran untuk mempergunakan akal. Maryam hanyalah mengenakan kerudung karena memang rambut di kepala itu bukanlah aurat. Aurat adalah sesuatu yang kalau ditampakan maka akan menimbulkan rasa malu bagi pemiliknya, membangkitkan syahwat birahi bagi yang melihatnya dan mengakibatkan kekacauan sosial apabila diumbar dan diperlihatkan secara bebas. Apakah rambut di kepala apabila diperlihatkan akan menimbulkan rasa malu? Apakah akan membangkitkan syahwat birahi bagi yang melihatnya? Apakah dengan memperlihatkan rambut di kepala akan menimbulkan kekacauan sosial? Jawabnya tidak bukan?

Jilbab adalah suatu keharusan dan kewajiban yang diterapkan pada suatu masyarakat di arab pada suatu masa dan di suatu kondisi sosial budaya tertentu. Marilah kita teliti lagi bagaimana Allah swt memberikan pernyataan di dalam kitab suci al-Quran tentang jilbab.

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِىُّ قُلْ لِّاَزۡوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَآءِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ يُدۡنِيۡنَ عَلَيۡهِنَّ مِنۡ جَلَابِيۡبِهِنَّ ؕ ذ
ذٰ لِكَ اَدۡنٰٓى اَنۡ يُّعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوۡرًا رَّحِيۡمًا

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS 33:59)

Sengaja penulis menggarisbawahi kalimat pada firman Allah swt tersebut untuk menegaskan maksud dari penutupan jilbab ke seluruh tubuh itu untuk apa. Coba dibaca lagi dengan teliti, dan kalau perlu dibuka kembali tafsir dari ayat al-Quran ini. Apakah jilbab dari ayat ini maksudnya untuk menutup aurat? Tidak bukan? Maksudanya adalah agar supaya mereka itu mudah untuk dikenali, karena memang pada zaman tersebut laki-laki arab yang iseng tidak dapat mengenali mana istri Nabi, mana istri dan anak-anak orang beriman dan mana yang budak.

Marilah kita perhatikan ayat al-Quran lainnya yang sering dikaitkan tentang jilbab ini.

وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ
وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ
وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)…” (QS 24:31)

Ini adalah ayat al-Quran yang memerintahkan agar supaya kain kerudung itu menutupi dadanya. Apakah ayat tersebut sedang menceritakan bahwa rambut di kepala adalah aurat? Tidak begitu bukan? Ayat tersebut memerintahkan agar supaya wanita yang berkerudung itu menutupi dada mereka, karena memang dada wanita itu adalah termasuk aurat. Ditutupinya boleh dengan kerudung, boleh dengan jilbab, atau juga dengan pakaian.

Saudara-saudaraku, di dalam al-Quran juga ditegaskan bahwa perangkat yang dipergunakan untuk menutup aurat itu adalah pakaian, bukan jilbab. Coba perhatikan ayat al-Quran berikut ini:

يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَيۡكُمۡ لِبَاسًا يُّوَارِىۡ سَوۡاٰتِكُمۡ وَرِيۡشًا ؕ وَلِبَاسُ التَّقۡوٰى ۙ ذٰ لِكَ خَيۡرٌ
ذٰ لِكَ مِنۡ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُوۡنَ

“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.” (QS 7:26)

Sekali lagi, tulisan ini adalah dimaksudkan sebagai alternatif pemahaman dan keyakinan tentang jilbab ditengah maraknya agresi pemikiran dari pemahaman orang-orang timur tengah tentang jilbab. Bahwa sesungguhnya ternyata ada sekelompak umat Islam yang memahami dan meyakini kalau rambut di kepala itu bukanlah aurat sehingga dengan demikian maka mengenakan jilbab itu tidak wajib. Nah, kelompok ini ada di tengah-tangah umat Islam sejak dahulu hingga sekarang, dan kelompok ini menginginkan agar supaya pendapat, pemahaman dan keyakinan mereka dihormati dan dihargai, sebagaimana mereka juga menghormati dan menghargai wanita-wanita yang saat ini mengenakan jilbab.

Berikut ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra dalam Hadits Riwayat Hakim dan dinilai Shahih oleh ad-Dzahabi sesuai syarat Muslim: "Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah (istri Firaun)." Nah, saudara-saudara, dari keempat wanita tersebut dalam hadits tadi, hanya Fatimah binti Rasulullah saw saja yang mengenakan jilbab, selebihnya tidak. Jadi logikanya adalah, apabila wanita-wanita tersebut memperlihatkan aurat mereka, mana mungkin mereka merupakan wanita ahli surga? Coba marilah kita pergunakan akal sehat kita, bahwa rambut di kepala itu bukanlah aurat.

Selanjutnya kami coba tampilkan potret lama dari keluarga Buya Hamka, salah satu tokoh muslim terkenal di Indonesia yang wejangan dan ceramahnya banyak dijadikan panutan bagi masyarakat muslim di Indonesia. Coba diperhatikan, apakah wanita-wanita tersebut memakai jilbab? Tidak bukan? Begitu juga dengan Cut Nyak Dhien, pahlawan wanita dari tanah Aceh, Cut Meutia, Raden Dewi Sartika, Hajjah Rangkayo Rasuna Said dan bahkan Nyai Ahmad Dahlan, istri dari Kyai Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah.

Demikianlah tulisan ini dibuat dengan maksud untuk sedikit memberikan penjelasan bahwa ada pendapat dan pemahaman alternatif yang berkembang di kalangan umat Islam bahwa jilbab tidak wajib. Dan sebenarnya memang ada beberapa hal lainnya yang justru jauh lebih penting dan lebih wajib untuk diterapkan dalam kehidupan seorang muslim/muslimah dibandingkan dengan mengenakan jilbab, seperti misalnya beriman dan bertauhid secara benar, jujur dan bertanggung jawab penuh terhadap amanah, atau menebarkan rasa kasih sayang sehingga Islam benar-benar diterima sebagai ajaran yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Hal-hal tersebut jauh lebih hakiki dan lebih penting ketimbang mengenakan jilbab, menelihara jenggot atau mengenakan baju gamis dan celana cingkrang.

Jadi, marilah kita semua bangsa Indonesia terus maju kedepan, menyongsong kejayaan yang sudah berada di ufuk. Jangan mau dipecah belah oleh pemahaman sempit. Semua muslimah, baik yang mengenakan jilbab maupun yang tidak adalah bersaudara dan seiman sekeyakinan. Kita semua bersatu padu, semuanya adalah umat Nabi Muhammad saw. (AK)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 00.45