Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 25 September 2015

Seorang Lelaki dan Para Tamunya

Malam itu di surau sebuah komplek perumahan pinggiran kota, giliran Bang Modin yang menjadi penceramah tarawih. Dia lelaki pendiam yang kalau berbicara agak sedikit gagap, seperti halnya Nabi Musa as. Tapi karena sudah ditetapkan oleh keputusan rapat DKM maka mau tak mau Bang Modin harus berceramah malam itu. Setiap orang harus bisa menjadi da’i, begitu pendapat mayoritas masyarakat di situ.

Dengan terbata-bata Bang Modin memulai ceramahnya, “Di suatu hari ....a-da se-seorang telah ke-datangan beberapa ta-mu yang non-Muslim. Ka-rena ti-dak ada ge-reja di da-erah situ, maka le-laki tadi mem-persilahkan para ta-munya tadi mem-pergunakan mesjid se-bagai tempat iba-dah meng-gantikan gereja.”

Begitu kalimat pertama itu selesai diucapkan, sontak seisi surau menjadi gaduh, para jemaah saling berbincang dan memprotes kejadian tersebut. “Mana bisa masjid dijadikan gereja?” teriak Bang Sarkam tidak terima.

“Ini yang namanya mencampurkan yang Haq dan yang Bathil, di dalam Islam itu tidak diperbolehkan!” teriak Bang Pe’i menimpali.

Kemudian giliran Pak Sobirin yang berprofesi sebagai pengacara berdiri, “Saudara-saudara, kalau dalam khazanah hukum di Indonesia, ini namanya sudah penistaan agama. Menurut undang-undang no.1 tahun 1965 orang tadi bisa diancam dengan hukuman pidana selama 5 tahun penjara.”

Para jamaah lainnya semakin gaduh, suasana menjadi ramai dan orang-orang semakin terbakar emosinya. “Jelas, jelas ini adalah sebuah usaha kristenisasi! Kita sebagai umat Islam tidak boleh tinggal diam, kita harus ganyang orang tersebut!” teriak Bang Mapud.

“Jangankan mesjid, sekolah Sang Timur pun di Ciledug pernah dipakai untuk dijadikan gereja kita serbu waktu itu,” teriak salah seorang jemaah.

“Setuju! Setuju! Ayo kita beramai-ramai mendatangi orang tadi, kita arak dia dan kalau perlu kita bakar saja orang tersebut!” Kemudian jamaah surau menjadi ramai dan terbakar emosinya. “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” pekik para jamaah.

“Bang Pe’i coba Ente kumpulkan pemuda-pemuda komplek perumahan ini semuanya, kita berangkat malam ini juga, kumpulkan golok dan pentungan untuk jaga-jaga!” perintah Bang Sarkam hendak memimpin jamaah untuk bergerak mengganyang orang tersebut.

“Bang Modin, coba sebutkan nama orang tersebut tadi siapa dia? Dan dimana alamatnya?” tanya Bang Pe’i.

Dengan wajah pucat pasi dan nafas kembang kempis Bang Modin berkata terbata-bata,” o-orang tersebut..... o-orang tersebut ya..itu Rasullullah Muhammad saw.” (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 13.05