Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 25 September 2015

Burung Beo Kesayangan

“La ilaha illallah...., ayo sayang bilang begitu....,” ucap Haji Modakir mengajari burung beo kesayangannya untuk mengatakan kalimat-kalimat Islami. “Ayo Mat Rozi, La ilaha illallah....” begitu ulangnya mengajari Mat Rozi, nama burung beo itu.

Dinamakan Mat Rozi dengan maksud untuk menyindir saingan rivalnya di dusun itu, yaitu Mat Roiz, sebagai pemuka agama. Karena menurutnya Mat Roiz selalu mengikuti tema ceramah yang ia sampaikan setiap pekannya. Ya seperti burung beo begitulah pikir Modakir.

Siang itu ketika Modakir sedang mengendarai sepeda sepulang dari pasar, dilihatnya beberapa orang sedang berkerumun di depan rumah Dul Holel, termasuk diantaranya adalah Mat Roiz, saingannya itu. Tampak Mat Roiz sedang kesal dan memarahi anak Dul Holel.

Modakir mendekat dan bertanya kepada kerumunan orang-orang disitu ada apa gerangan. Rupanya sesuatu telah terjadi, anak Dul Holel meminjam sepeda dari anak Mat Roiz, karena belum mahir benar kemudian sepeda itu meluncur ke bawah sungai dan hancur. Untung saja anak Dul Holel sempat lompat dari sepeda sehingga tidak ikut terjerumus ke dalam sungai.

Mat Roiz marah dan minta ganti rugi kepada Dul Holel. Kemarahan itu menjadi tontonan gratis penduduk dusun siang itu.

Modakir melihat suatu kesempatan untuk unjuk gigi di depan saingannya itu. Kemudian dia tiba-tiba saja maju ke depan dan berceramah, “Sudah.... sudah.... Sabar... Sabar.... Ini adalah musibah, kecelakaan yang merupakan takdir dari Allah swt. Kita sebagai umat Islam harus merelakan apa yang sudah menjadi kehendak dan ketentuan Allah swt. Pak Roiz, sampeyan yang sabar ya.... ini musibah adalah ujian dari Allah, jadi ya ikhlaskan saja.”

Begitulah Modakir berceramah di depan saingannya dengan maksud mengguruinya, agar penduduk dusun yang hadir disitu melihat bagaimana Modakir bisa menjadi tetua panutan yang kata-katanya pantas ditaati.

Dengan menahan emosi, mau tidak mau Mat Roiz akhirnya harus merelakan sepedanya. Toh Dul Holel bukanlah merupaka orang berada, sehingga mustahil rasanya dia bisa menggantikan sepeda yang rusak berat itu. Akhirnya Mat Roiz undur diri dan pulang bersama anaknya, penduduk dusun pun meninggalkan tempat kejadian itu.

Dul Holel memang bukan orang berada, hidupnya pas-pasan sebagai petani yang menggarap sawah orang lain. Akan tetapi sang anak, Paisol, bukanlah orang yang cepat menyerah dan tergolong anak yang ‘mbalelo’. Bapak boleh miskin tapi sebelum dia pandai bersepeda pantang baginya untuk menyerah.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Paisol pergi menuju kediaman Modakir menemui anaknya. Melalui anaknya itulah Paisol memohon ijin untuk meminjam sepeda milik Modakir. Paisol pun memperoleh sepeda pinjaman dan meneruskan latihan naik sepeda di sekitaran rumah Modakir.

Mula-mula perlahan saja, tapi lama kelamaan Paisol mulai berani memacu sepeda pinjaman tersebut agak laju. Anak Modakir berteriak mengingatkan Paisol agar berhati-hati, sementara Modakir sendiri tengah istirahat tidur siang.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sepeda yang dikendarai Paisol melaju dengan kencang dan tak mampu dikendalikannya. Sepeda ‘nyelonong’ ke pekarangan rumah dan.... “Braaaak !” Sepeda menabrak sangkar burung beo. Sangkar hancur dan burung beo yang ketakutan itu pun terbang lepas dari sangkarnya yang hancur.

“Aba...! Mat Rozi lepaaas! Aba....” teriak anaknya kaget dan ketakutan membangunkan Modakir.

“Hah? Mat Rozi lepas?” Modakir terperanjat dan bangun dari tidurnya, lari menuju kandang beo. Didapatinya kandang sudah hancur dan sepedanya tergeletak. Paisol sudah kabur entah kemana.

“Mat Rozi lepas...! Mat Rozi lepas!” Modakir berteriak-teriak memanggil orang-orang untuk menolongnya.

Siang itu seisi penduduk dusun dikerahkan untuk mengejar burung beo yang lepas. Mencarinya kemana-mana dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya. Tapi sampai senja datang usaha itu sia-sia. Burung itu telah pergi entah kemana terbangnya.

Modakir sedih, memikirkan bagaimana mungkin beo kesayangannya itu bisa lepas. Dia sudah melatihnya beberapa kata yang sudah bisa ditirukan Mat Rozi seperti: “Assalamu ‘alaikum”, “Astagfirullah...”, “Allahu Akbar...” dan “Mat Rozi gendheng...”

Malam hari di pengajian rutin di desa itu, giliran Mat Roiz yang berceramah. Sementara Modakir sedih bukan kepalang, justru sekarang terlihat wajah Mat Roiz yang sumringah.

“Sudah.... sudah.... Sabar... Sabar.... Burung kesayangan yang lepas ini adalah musibah, kecelakaan yang merupakan takdir dari Allah swt. Kita sebagai umat Islam harus merelakan apa yang sudah menjadi kehendak dan ketentuan Allah swt. Pak Haji, sampeyan yang sabar ya.... ini musibah adalah ujian dari Allah, jadi ya ikhlaskan saja,” kata Mat Roiz seperti mengulangi ucapan Modakir waktu dulu.

Modakir jadi emosi, kemudian dia berdiri di hadapan para jamaah di surau itu, ditatapnya mata para jamaah satu per satu, “Saudara-saudara, coba kalian buka al-Quran. Tidak pernah ada musibah atau malapetaka disebabkan oleh ujian Allah. Setiap musibah dan malapetaka itu adalah hasil dari perbuatan kita sendiri, jadi jangan pernah menyalahkan Tuhan atau berpikiran bahwa Tuhanlah yang mendatangkan musibah atau malapetaka.” (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.45