Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 27 September 2015

Teka-teki Beberapa Kasus Pembunuhan

Tata Chubby dibunuh di tempat kosnya di daerah Tebet, Jakarta. Pembunuhnya adalah Prio Santoso, seorang pria yang dikenal baik, seorang guru sebuah bimbingan belajar. Kemudian di Ciledug, M. Rizki Silaban (15 tahun) telah membunuh adiknya sendiri dengan menggorok lehernya. Pembunuh dikenal sebagai pelajar yang baik. Dan baru-baru ini terjadi kasus pembunuhan juga, adalah Pricila Dina seorang siswi SMP di Bandung tewas dibunuh oleh seseorang yang masih berumur 13 tahun.

Lalu yang paling terakhir adalah berita tentang tewasnya AN (8 tahun) murid SD di Kebayoran Lama yang dibunuh teman sekelasnya R (8 tahun) karena berkelahi.

Saudaraku, dulu kala apabila ada peristiwa pembunuhan maka biasanya yang menjadi pelaku adalah seorang begal, preman, perampok dan orang-orang jahat. Akan tetapi saat ini, yang menjadi pembunuh itu bisa siapa saja. Beberapa kasus di atas tadi adalah contohnya.

Bayangkan..... apabila anda keluar rumah saat ini, pergi ke jalan dimana banyak orang lalu lalang. Tinggal anda tunjuk ke siapa saja, maka orang yang anda tunjuk tadi bisa jadi seorang pembunuh. Karena saat ini siapa saja bisa menjadi pembunuh. Beberapa kasus di atas tadi adalah contohnya.

Dan pembunuhan itu bukan disebabkan karena hal-hal yang luar biasa, tapi justru oleh hal-hal yang sepele, seperti tersinggung dengan ucapan, ingin memiliki HP atau karena mendengar bisikan di kepala.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

Pada tahun 1998 ada sebuah film berjudul “Fallen” yang bercerita tentang seorang detektif di New York menyelidiki kasus pembunuhan beruntun yang pelakunya adalah orang-orang yang dikenal baik dan hampir tidak masuk akal kenapa mereka bisa menjadi pembunuh. Selidk punya selidik akhirnya disadari bahwa pelaku utama di balik pembunuhan itu semua adalah sesosok iblis bernama Azazel.

Nah, barangkali bisikan gaib di kepala M. Rizki tadi boleh jadi adalah sosok iblis ini yang kemudian menguasai alam pikirannya dan berakhir dengan membunuh adik kandungnya sendiri.

Sayang sekali, di Indonesia tidak ada detektif sebagaimana John Hobbes di film tadi. Jadi kemungkinan masih akan ada lagi peristiwa pembunuhan yang pelakunya bisa siapa saja, bisa seorang guru, pengacara, hakim, polisi, ustadz, siapa saja bisa jadi pembunuh. Karena kita tidak pernah memburu pelaku utamanya: iblis. (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 13.21