Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 28 September 2015

Indonesia Negeri Tauhid

Di Indonesia ada 2 organisasi Islam yang besar yaitu Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama, serta ada beberapa organisasi kecil lainnya seperti Persis, Perti, al-Irsyad, dll. Ada juga beberapa jamaah dan ormas Islam seperti Jamaah Tabligh, Hizbut Tahir, Harakah Sunniyah sampai dengan Front Pembela Islam (FPI).

Di tingkat yang lebih luas lagi maka dunia Islam dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu Sunni dan Syi’ah. Meskipun sebenarnya di luar kedua kelompok tersebut masih banyak kelompok-kelompok lainnya yang lebih kecil lagi.

Secara aktivitas pelaksanaan ritual ibadah Islam juga dibagi-bagi menjadi beberapa mazhab seperti mazhab Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali dalam kelompok aliran Sunni, dan mazhab 12 imam, Zaidiyyah dan Ismailiyyah dalam kelompok aliran Syi’ah.

Begitulah apabila kita mendasarkan penilaian dan kriteria berdasarkan cara ibadah, cara pandang politik dan jenis aktivitas serta cita-cita perjuangan, maka kita akan menemukan banyak sekali perbedaan. Ada ratusan atau mungkin ribuan organisasi Islam di dunia ini yang berbeda-beda, yang tidak mungkin lagi untuk dapat dipersatukan kecuali Nabi Muhammad saw hidup kembali dan membubarkan semua organisasi dan kelompok tadi, dan selanjutnya meleburkan semua organsisasi tersebut menjadi satu.

Kalau kita mendasarkan diri pada tataran syariat, maka begitulah, ada banyak sekali perbedaan yang memunculkan banyak sekali organisasi Islam di dunia ini. Tidak akan mungkin untuk dapat dipersatukan lagi.

Negara berdasarkan syariat Islam? Syariat Islam yang mana? Karena yang ada ialah syariat Islam itu tidak satu, plural, banyak sekali jumlahnya. Jadi kalau ada negara mendasarkan dirinya pada syariat Islam, artinya adalah suatu kelompok atau aliran tertentu mendominasi aturan dan tata cara di atas kelompok atau agama lainnya.

Memaksakan suatu negeri berdasarkan syariat Islam dari suatu kelompok seperti di Afghanistan justru membuat negeri tersebut tercabik-cabik dalam perpecahan sampai sekarang. Kelompok Taliban senantiasa berseberangan dengan kelompok-kelompok etnis lainnya seperti Hazara yang banyak beraliran Syi’ah, atau kelompok Pasthun dan Tajik, serta pendatang baru yaitu kelompok ISIS.

Pada kesempatan pengajian rutin di Yakdi, guru menjelaskan bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang berdasarkan kepada Keimanan, Tauhid – Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan dasar ini maka kita harus bersyukur karena negeri ini bisa bersatu dan tidak terpecah belah.

Sekali lagi, kita harus bersyukur bahwa negeri ini bisa bersatu dan tidak terpecah belah dengan berdasarkan kepada Tauhid. Yang satu tidak mendominasi yang lainnya, yang mayoritas tidak mendesak kepentingan minoritas, semuanya rukun dan damai di bawah payung keimanan Tauhid, meskipun terdapat perbedaan syariat dalam pelaksanaan ibadah, aspirasi politik, tata cara perjuangan, dst.

Allah swt telah mengilhami para pendiri negeri ini dari dulu untuk menemukan kesimpulan yang benar terhadap dasar sebuah negara. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.50