Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 30 September 2015

Dibawah Naungan Kerajaan Ilahi

Manusia pada umumnya adalah mahluk egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Seperti misalnya untuk urusan ibadah, sholat berjamaah dengan niat untuk mendapatkan pahala 27 kali lipat dibandingkan dengan sholat sendirian, yang pada akhirnya sebenarnya adalah untuk kepentingan dirinya sendiri. Membuang paku di jalan, memberi sedekah kepada fakir miskin atau pun berpuasa yang kesemuanya itu adalah dalam rangka untuk mendapatkan pahala demi untuk kepentingan pribadinya sendiri.

Begitulah, manusia pada umumnya adalah mahluk egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri sehingga ruang lingkup pandangan, pikiran dan kesadarannya adalah berputar hanya pada dirinya sendiri. Sehingga apabila manusia itu berjalan di muka bumi, maka segala yang ada akan dibagi 2: miliknya atau bukan miliknya. Apabila manusia itu melihat sesuatu yang bukan miliknya, maka secara naluriah pikirannya akan memikirkan bagaimana caranya agar sesuatu tadi dapat menjadi miliknya.

Diantara manusia pada umumnya tadi, ada segelintir orang yang juga memikirkan lingkungan sekitarnya, tetangga dekat maupun kerabat jauhnya, teman-teman dan sahabat karibnya. Orang-orang yang seperti ini apabila dia berjalan di muka bumi ini, maka pandangan dan pikirannya berada pada kesadaran bahwa dia berada di bawah tatanan sosial suatu lingkungan.

Kemudian dari beberapa gelintir orang-orang tersebut, ada juga yang memikirkan tidak hanya dirinya sendiri, masyarakat sekitar, bahkan keseluruhan bangsanya menjadi fokus perhatiannya. Orang-orang seperti ini apabila dia berjalan di muka bumi ini, maka pandangan dan pikirannya berada pada kesadaran bahwa dia berada di atas tanah dari suatu pemerintahan di suatu negeri.

Begitulah tingkatan kesadaran manusia pada umumnya. Akan tetapi, pernahkan anda membuka pikiran anda dan membebaskan kesadaran anda seluas-luasnya, tanpa batas? Apakah anda menyadari bahwa pada kenyataannya anda saat ini sedang berada di atas kerajaan Maha Luas dibawah pemerintahan Allah, apakah anda menyadarinya?

Coba anda perhatikan dengan seksama realitas yang terjadi di sekeliling anda, bukankah itu semua yang terjadi adalah berdasarkan hukum-hukum kehidupan yang diatur oleh pemerintahan Allah? Coba perhatikan sekali lagi, hukum siapakah yang ternyata paling berkuasa dalam kenyataan hidup sehari-hari? Apakah hukum adat? Hukum negara? Semua hukum buatan manusia? Ataukah ternyata kenyataannya yang dituruti oleh alam semesta ini adalah hukum Allah?

Jadi kalau kita membuka mata, pikiran dan hati seluas-luasnya, maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya saat ini kita tengah berada di dalam suatu negeri yang teramat luas, yang diatur oleh suatu pemerintahan dibawah Allah swt. Kesemua yang ada di tubuh kita, di keluarga dan lingkungan kita, dan di seluruh pelosok alam semesta ini, kesemuanya adalah milik Allah swt sebagai Maha Raja Yang Maha Berkuasa.

Di sini, di Jakarta, di Indonesia tercinta ini, kita manusia boleh saja membuat aturan dan hukum sekehendaknya, apakah itu baik ataukah buruk, pada akhir kenyataannya ternyata hanya hukum Allah saja yang akan dituruti oleh alam semesta. Anda, saya, tumbuh-tumbuhan, satwa fauna, dan seluruhnya, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, pasti pada akhir kenyataannya akan tunduk pada kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

Begitulah ternyata kenyataannya. Mari kita belajar untuk menyadari dan merasakannya.(AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.41