Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 30 September 2015

Mengheningkan Perbuatan, Pikiran dan Perasaan

Kebanyakan dari perbuatan manusia itu gaduh, ramai. Mau berangkat menunaikan ibadah haji manusia mengundang kaum kerabatnya untuk mendoakan dan mengantarkannya ke asrama penginapan. Mau berpuasa di bulan Ramadhan, malamnya harus dibangunkan dengan kentongan atau melalui pengeras suara di masjid. Sampai-sampai mau sholat menghadap Tuhannya, manusia pun harus dipanggil dengan suara azan yang keras.

Apakah kegaduhan itu akan membawa manusia lebih dekat lagi dengan Allah? Ternyata berdasarkan pengalaman, guru menjelaskan bahwa justru sebaliknya, amalan-amalan dan perbuatan yang sepi, hening, tidak gaduh itulah yang akan mendekatkan manusia kepada Allah swt. Guru melatih murid-muridnya untuk berzikir mendoakan tumbuh-tumbuhan agar bisa bertahan hidup di tengah kemarau panjang ini. Atau amalan perbuatan lainnya yang tidak diperuntukan bagi manusia.

Ini adalah amalan yang sepi, tidak gaduh, tidak ada manusia lainnya yang mengetahui. Hal ini akan melatih diri kita untuk mengheningkan perbuatan kita. Tidak perlu gembar-gembor, cukup hanya kita dan Allah saja yang mengetahuinya.

Dengan membiasakan hal ini, maka lambat laun kita bisa mengontrol pikiran kita. Karena pikiran itu laksana kuda liar, jika tidak dikendalikan maka dia akan lari kemana-mana. Misalnya saja, pada saat Sholat pikiran kita bisa lari ke pasar, ke kantor, ke pekerjaan kita yang belum selesai, kemana saja. Maka pikiran itu harus mampu kita kendalikan.

Berlatih zikir mengucapkan Syahadat, Istigfar dan Sholawat, lalu mengulang-ulanginya terus menerus adalah melatih kita untuk dapat mengendalikan pikiran.

Apabila sudah mampu mengendalikan pikiran, maka kita dapat memerintahkan pikiran kita agar supaya berhenti untuk berfikir. Anda tahu apa yang akan terjadi kemudian? Apabila kita sudah mampu mengendalikan pikiran kita untuk berhenti berfikir, apabila kita mampu mempertahankannya untuk waktu yang lama, maka Allah akan mengisi pikiran kita dengan pengertian. Sebuah pengertian yang datang dengan sendirinya, di luar kehendak dan pengetahuan anda sendiri. Itulah pengertian yang datang dari Allah yang dititipkannya kepada pikiran anda.

Selanjutnya guru juga melatih murid-muridnya, tidak hanya berzikir Syahadat, Istigfar dan Sholawat, tetapi juga berlatih untuk merasakan kehadiran Allah di dalam hatinya saat melantunkan zikir, seakan-akan hati melihat Allah langsung. Hal ini akan melatih kita untuk dapat mengendalikan perasaan dan mood kita, sehingga kita sudah bisa untuk merasakan apa saja sekehendak kita sendiri. Anda bisa merasa sangat bahagia, tanpa harus ada sebabnya.

Rasa fisik, rasa jasmani dan rasa ruhani, apabila anda mampu menguasai diri anda untuk memerintahkan qalbu berhenti untuk merasakan sesuatu, maka insya Allah, hati anda akan diisi oleh Rasa Allah itu sendiri.

Bukan anggota badan manusia, bukan juga panca indera manusia, bukan pula akal pikiran manusia yang mampu mencapai Allah, tapi rasa bathin manusia itu lah. Tidak ada rumah, tidak ada tempat dan tidak ada satu pun dari semua ciptaanNya yang mampu menampung Allah, kecuali qalbunya seorang yang beriman. Itulah rasa sejati. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.41