Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 7 Oktober 2015

Jangan Terjerumus Kedalam Pesugihan

Kehidupan semakin sulit, himpitan ekonomi semakin hari semakin bertambah besar. Makanan yang dahulu kala sangat mudah diperoleh, maka saat ini menjadi semakin mahal. Biaya sekolah mahal, biaya kesehatan mahal, biaya listrik mahal, biaya transportasi mahal, bahkan biaya untuk mendapatkan perkerjaan pun mahal.

Ditengah himpitan ekonomi yang semakin berat, tersebutlah sepasang suami istri dengan kelima anaknya, kita sebut saja Paijo dan Warsih (bukan nama sebenarnya). Dengan penghasilan Paijo sebagai tukang becak, maka dapat dibayangkan betapa sulitnya membiayai anak-anaknya sekolah, berobat jika sakit, membayar listrik dan membeli gas untuk masak, bahkan untuk membeli makanan sehari-hari pun kadang masih kurang.

Keluarga Paijo memang miskin, tapi bukan karena Paijo adalah pemalas, justru sebaliknya dia adalah pekerja yang rajin. Pagi-pagi jam 3 dini hari dia sudah berangkat ke pasar membawa becaknya untuk mencari penumpang di pasar yang ingin diantarkan dengan membawa dagangannya. Dia baru pulang ke rumah sekitar jam 6 atau jam 7 malam ketika dipastikan sudah tidak ada lagi penumpang. Inilah yang disebut dengan kemiskinan terstruktur, bahwa siapa saja bisa menjadi orang miskin, tidak peduli apakah dia rajin atau pemalas, pintar ataukah bodoh, shaleh ataukah bajingan, siapa saja bisa jadi orang miskin.

Nah, singkat cerita Paijo mendapat bisikan dari seorang teman jauhnya, bisikan untuk memilih jalan pintas mengakhiri kemiskinan yang dideritanya. Yaitu bisikan untuk mengajaknya menempuh jalan pesugihan. Pesugihan adalah melakukan perjanjian dengan siluman untuk mengharapkan berkah berupa kelancaran rezeki, kekayaan dan pangkat atau jabatan.

Di Jawa Barat ada beberapa tempat yang bisa didatangi untuk mencari pesugihan ini, seperti di daerah Sukabaumi, gunung Hejo, atau di daerah gunung Gede. Di Jawa Tengah atau pun di Jawa Timur juga ada beberapa tempat seperti itu seperti di gunung Kawi, bukit Kemukus, di daerah Klaten, dll.

Bersama istrinya, Warsih, Paijo pergi mendatangi tempat-tempat keramat untuk melakukan perjanjian dengan siluman. Siluman kera, siluman ular, siluman babi, tuyul, Buto Ijo ataupun siluman kuda. Keduanya menjalani suatu ritual tertentu, hingga pada puncaknya mereka diminta untuk menyerahkan tumbal, yaitu anak kesayangannya harus dikorbankan nyawanya demi memenuhi persyaratan perjanjian dengan siluman.

Setelah persyaratan dipenuhi, maka Paijo dan istrinya mendadak menjadi kaya raya. Rezeki datang berlimpah seperti tak ada habis-habisnya. Di dunia siluman pun ternyata ada bank ghaib, dimana harta dan uang berlimpah ruah bisa diperoleh oleh siapa saja yang mengikat perjanjian dengan siluman.

Begitulah cerita tentang pesugihan. Banyak sekali orang zaman sekarang yang menganggapnya takhayul, bohong dan tidak ada. Padahal dalam al-Quran jelas sekali diterangkan bahwa bangsa jin dan siluman itu ada, nyata dan hidup di tengah-tengah manusia.

Bagi seorang mukmin, maka dia harus mempercayai dan menerima kenyataan bahwa mereka itu ada. Kata-kata seperti takhayul tidak pantas untuk diucapkan oleh seorang mukmin.

Dalam salah satu kesempatan pengajian, guru menyindir dan memarahi murid-muridnya berkenaan dengan ibadah haji yang baru saja dilaksanakan. Ibadah haji adalah sebuah ritual yang dilakukan oleh seorang mukmin dalam rangka memenuhi panggilan Allah swt. Akan tetapi sayangnya, justru pada zaman yang semakin susah ini, banyak sekali orang yang melaksanakan ritual ibadah haji dengan maksud untuk mengharapkan kelancaran rezeki, kekayaan dan pangkat atau jabatan.

Jadi bukan murni semata-mata hanya untuk mengharapkan ridho Allah, diterima sebagai tamu Allah. Nah, kalau sudah seperti ini, ibadah haji, apa bedanya dengan pesugihan?

Mensetarakan posisi dan kedudukan Allah sama dengan siluman ?

Bahkan sedemikian banyaknya korban berjatuhan karena tertimpa crane atau terinjak-injak di Mina semakin membuatnya persis mirip seperti tumbal dari ritual pesugihan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.14