Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 12 Oktober 2015

Betapa Sedikitnya Orang Yang Beriman

Alkisah pada suatu bangsa di suatu negeri.....

Betapa sedikitnya orang yang beriman di negeri itu, padahal negeri itu didirikan berlandaskan pada keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Negeri yang kaya raya dengan segala potensi kemakmuran bagi rakyatnya, mulai dari tanahnya yang subur, hutan menghampar luas, hasil dari lautan dan buminya melimpah ruah dan rakyatnya yang rajin. Akan tetapi sayang kesemuanya itu tidak bisa mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Jangankan peralatan telekomunikasi yang canggih, peniti dan jarum pun harus diimpor dari RRT (Tiongkok). Banyak sekali kebutuhan sehari-hari masyarakat negeri itu mulai dari ujung rambut diimport dari Jepang, perawatan muka diimport dari Korea, dan seterusnya sampai dengan sepatu yang diimport dari Italia.

Sehingga manakala kurs mata uang dollar Amerika melonjak naik, maka negeri tadi kelimpungan karena terbelit dengan naiknya harga hampir semua kebutuhan masyaraktnya.

Mata uang dollar Amerika dipakai oleh masyarakat dunia sebagai uang untuk melakukan transaksi internasional. Maka tatkala bank Federal AS menaikan suku bunganya dan memeberikan insentif yang menarik untuk merangsang kenaikan laju ekonomi di negaranya, maka berbondong-bondong orang membeli dan mengalihkan investasinya ke dollar Amerika. Dalam sekejap jumlah uang dollar Amerika yang berada di pasaran terkuras habis dan langka, inilah yang kemudian menjadikan nilai kurs dollar Amerika terhadap mata uang lainnya melonjak naik.

Dengan melonjaknya nilai kurs dollar Amerika, maka negeri itu berada dalam kesulitan yang nyata. Karena hampir semua kebutuhan masyarakatnya harus diimport dari luar negeri dan itu semua harus dibeli dengan dollar Amerika. Negeri dalam kemerosotan ekonomi dan angka laju pertumbuhannya merosot drastis.

Beberapa pakar ekonomi berkumpul mengadakan suatu seminar untuk memberikan masukan kepada pemerintah cara yang jitu untuk keluar dari kemelut ekonomi negeri itu. Ada yang mengusulkan agar pemerintah segera mengeluarkan paket kebijakan ekonomi berupa stimulus untuk sektor riil, yaitu dengan menawarkan beberapa kemudahan bagi pengusaha di sektor tersebut yang diharapkan akan memacu pertumbuhan ekonomi. Ada juga yang mengusulkan untuk membebaskan pajak bagi beberapa sektor industri, bahkan ada juga yang sampai mengusulkan agar Badan Pemberantasan Korupsi dibubarkan saja.

Pada hari itu, di ruang konferensi seminar, para jurnalis dan wartawan dari seluruh media cetak dan elektronik sudah berkumpul di depan podium pembicara. Para pakar ekonomi, tokoh politik dan para pentolan pengusaha kelas kakap sudah juga berkumpul berjejer di ruangan aula itu, menantikan seorang pemimpin negara negeri itu yang akan berbicara bagaimana caranya untuk dapat mengatasi krisis ekonomi sekarang ini.

Ketika tiba saatnya, sang pemimpin negeri itu pun maju kedepan. Seorang pemimpin yang kurus melangkah dengan tegap dan pasti. Para hadirin yang ada di ruangan aula besar itu seketika bergemuruh dengan kerasnya. Semua orang berdiri sambil bertepuk tangan tanda hormat dan salut, bahkan sebelum pemimpin itu mulai berbicara.

Ketika riuh tepuk tangan itu mulai mereda, dengan senyumnya yang khas pemimpin pun berbicara, “Saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Negeri ini dalam kesulitan yang besar, ekonomi lesu dan harga-harga di pasar melonjak naik.”

Kemudian pemimpin melanjutkan pidatonya, “Saya tidak akan mengeluarkan statemen apa-apa, selain mengajak kepada kita semua: bahwa yang bisa mengeluarkan kita dari krisis ini hanyalah Allah saja.”

Para hadirin yang ada di ruang aula itu terdiam, kecewa, tidak menyangka pemimpin akan berbicara seperti itu. Satu per satu para pakar ahli ekonomi keluar ruangan menuju tempat kue dan kopi disajikan. Kemudian disusul dengan para pengusaha, para polotikus dan seterusnya, sehingga ruangan aula yang semula penuh tinggal hanya segelintir orang saja yang tinggal.

Begitulah keadaan negeri itu. Mempercayai Tuhan itu ada, tapi tidak percaya bahwa Tuhan senantiasa Melihat dan Mengawasi serta Mengatur negeri itu. Tidak percaya bahwa Tuhan bisa Menolong dan Menganugerahi Keberkahan negeri itu. Hanya segelintir orang saja yang percaya dan benar-benar beriman. Selebihnya adalah orang-orang yang lebih percaya bahwa metode, ilmu ekonomi dan kebijakan politik itulah yang dapat mengeluarkan bangsa itu dari krisis.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

Demikianlah kisah suatu negeri, yang rakyatnya sudah tidak percaya lagi dengan Tuhan kecuali hanya segelintir saja. Tetap melanjutkan perilaku dan perbuatannya: mengimpor barang-barang konsumsi, tidak mendorong dan memproteksi industri dalam negeri, membiarkan pengusaha besar melahap usaha kecil rakyatnya, membiarkan hasil bumi dikuasai oleh orang asing dan pasar dinikmati oleh sedikit pelaku usaha saja.

Maka tatkala nilai kurs dollar Amerika melonjak naik, setiap orang tersiksa. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 03.32