Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 15 Oktober 2015

Di Bawah Naungan Syahadat

Membangun suatu negeri di bawah naungan Syahadat bukan berarti merencanakan makar dan mendirikan negara Islam berdasarkan syariat Islam. Akan tetapi membangun suatu negeri seperti Indonesia ini berdasarkan kepada keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari mana memulainya?
Guru menjelaskan, membangun negeri ini semestinya dimulai dari timur, Irian Jaya, tempat dimana matahari terbit. Sungguh selama ini kebijakan negeri ini telah dibuat berdasarkan pertimbangan apa yang baik bagi kebanyakan masyarakat di Jakarta, bukan di Irian Jaya sana. Apa yang baik bagi masyarakat di Jakarta belum tentu baik bagi masyarakat di Irian Jaya. Maka mulailah memikirkan apa yang baik bagi masyarakat di sana.

Apa Yang Dibangun?
Selama ini pembangunan dinilai berdasarkan parameter ekonomi dari negara liberal yang berlandaskan kepada paham materialisme. Sehingga akibatnya kita kehilangan arah menuju tujuan yang absurd dan sesat.

Paham materialisme mengarahkan pembangunan ekonomi kepada kekayaan, sehingga suatu masyarakat yang makmur adalah masyarakat yang terdiri dari orang-orang kaya. Coba anda lihat bahwa sekarang ini banyak sekali dibangun kawasan-kawasan hunian dengan konsep menghimpun rumah-rumah mewah di satu kawasan dengan udara dan lingkungan yang asri. Inilah impian sebagian besar masyarakat Indonesia, tidak peduli betapa mahalnya harga rumah tersebut.

Padahal kita semua tahu bahwa mewujudkan semua masyarakat menjadi orang kaya adalah tidak mungkin. Mengelompokan masyarakat orang-orang kaya di satu kawasan sama saja dengan meninggalkan masyarakat miskin untuk mengelompok di kawasan lainnya. Sehingga pada akhirnya akan tercipta dua kawasan: kawasan mewah dan kawasan kumuh.

Parameter-parameter ekonomi lainnya juga diukur berdasarkan prinsip-prinsip materialisme yang menyatakan bahwa kesejahteraan masyarakat itu diukur berdasarkan jumlah materi yang dimilikinya.

Jelas ini adalah paham yang keliru, bertolak belakang dengan misi dan cita-cita awal para pejuang dan pendiri negeri ini.

Konsep Pembangunan Berdasarkan Tauhid, Berdasarkan Kepada Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa
Dulu pada tahun 1988, saat pertama kali diterima di perguruan tinggi paling bergengsi di negeri ini, uang semester yang harus dibayar pada saat itu adalah RP 37,500 saja. Setiap orang pada saat itu rasanya mampu untuk membayar uang semester sekecil itu, bahkan saat wisuda di tahun 1993 pun ada dua orang wisudawan adalah putera dari tukang becak. Sekarang? Uang yang harus disetor tiap semesternya menjadi sekitar Rp 10 juta, dan tidak ada lagi tukang becak yang mampu menyekolahkan anaknya di sana. Apakah anda tahu berapa penghasilan per hari seorang tukang becak? Apakah wakil-wakil rakyat di DPRD/DPR sana tahu berapa penghasilan seorang tukang becak?

Dalam kaca mata pembangunan Tauhid: fenomena di atas adalah cermin dari kemunduran pembangunan pendidikan di Indonesia, bukan kemajuan.

Setiap orang tidak perlu harus menjadi orang kaya untuk dapat hidup sejahtera.

Yang penting adalah cukup pangan, tidak terlalu sulit untuk mendapatkan rejeki dan harga sembako yang murah sudah cukup membuat masyarakat bahagia. Transportasi massal dibenahi, dibuat mudah dan nyaman sehingga tiap orang tidak perlu memiliki mobil untuk mendapatkan kenyamanan.

Apartemen-apartemen sederhana dibangun, sehingga penduduknya mudah untuk mendapatkan rumah. Biaya pendidikan murah mulai dari TK sampai dengan perguruan tinggi. Setiap orang tidak perlu semuanya harus menjadi pegawai atau karyawan untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi, ada beberapa pilihan profesi lainnya yang juga menarik seperti menjadi petani, pengusaha perkebunan, wiraswasta, pedagang, nelayan, ilmuwan, ulama, dsb.

Ekonomi harus tumbuh di luar Jakarta, sehingga kebijakan makro ekonomi harus diterapkan secara berbeda-beda di tiap-tiap propinsi tergantung dari kondisi masyarakat setempatnya.

Dari Sabang sampai Merauke adalah bentang alam negeri ini, oleh karenanya transportasi dan distribusi adalah kunci bagi keberhasilan pembangunan.

Masyarakat yang hendak dicapai dalam konsep pembangunan berdasarkan Tauhid adalah masyarakat yang hidup sejahtera. Sehingga tidak perlu menjadi orang kaya untuk bisa menikmati kebahagiaan. Sepertiga waktu dipergunakan untuk bekerja mencari nafkah, sepertiga bisa dipergunakan untuk bermasyarakat karena memang kita adalah bangsa yang masyarakatnya suka bergotong royong. Sepertiga waktu lagi bisa dipergunakan untuk beribadah dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setiap orang hidup berbahagia, orang yang lebih kaya hidup membaur dengan orang miskin dan mereka saling bantu-membantu secara harmonis. Begitulah kira-kira konsep pembangunan yang kami impikan, sehingga diharapkan dari lebih 160 juta umat Islam di Indonesia akan tumbuh orang-orang yang beriman kepada Allah.

Diperlukan hanya 1% saja dari seluruh umat Islam di Indonesia yang beriman kepada Allah, maka itu sudah cukup bagi Allah untuk menurukan keberkahan dan kemakmuran bagi negeri ini. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 12.37