Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 20 Oktober 2015

Para Syuhada Hidup Abadi

Banyak sekali kesalahan dalam pemikiran sebagian besar umat Islam terhadap istilah Syuhada ini. Hanyalah seseorang yang mati dalam berjuang yang dianggap sebagai Syuhada, karena kematiannya adalah merupakan mati syahid.

Nah, siapakah yang dianggap sebagai mati syahid ini dan kriterianya apa? Tidak jelas. Masing-masing kelompok memiliki penafsiran yang bermacam-macam dan klaim yang berbeda-beda tentang mati syahid ini. Misalnya saja ada sekelompok teroris yang melakukan aksi bom bunuh diri lalu meng-klaim bahwa matinya adalah mati syahid dan yang bersangkutan berhak menyandang gelar Syuhada.

Begitulah kekeliruan sebagian besar prasangka dari umat Islam saat ini, bahwa apakah seseorang itu berhak menyandang gelar Syuhada atau bukan berdasarkan klaim dan perkiraan dari beberapa orang, beberapa ulama atau ustadz semata. Padahal gelar Syuhada itu sendiri sejatinya adalah pemberian dari Allah langsung, jadi bukan berdasarkan klaim dan prasangka manusia.

Syuhada kalau kita melihat dari akar katanya adalah suatu pemberian gelar dari Allah langsung kepada seorang hamba yang diterima ikrar Syahadatnya, bukan saja merupakan sumpah Syahadat di mulut tetapi juga dibuktikan oleh perbuatan dan perjuangan yang bersangkutan serta diyakini dengan sepenuh iman di dalam hatinya. Maka ketika seseorang tersebut sampai kepada ajalnya, maka Allah ridho dan menerima Syahadat orang tersebut dengan memberikan gelar Syuhada.

Adapun terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah ini, dikatakan bahwa:
وَلاَ تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لاَ تَشْعُرُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS 2:154)

Dalam ayat tersebut di atas dikatakan bahwa terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu sebenarnya tidak mati, melainkan mereka itu tetap hidup. Hidup seperti apa? Apakah seperti layaknya manusia lainnya yang masih hidup? Ya, benar, mereka itu hidup di tengah-tengah kehidupan kita di dunia ini, selayaknya manusia-manusia yang masih hidup. Mereka mendapat rezeki dari sisi Allah dan dicukupkan segala macam kebutuhannya di dunia ini, sebagaimana Allah juga menjamin rezeki segala mahluk hidup lainnya di muka bumi ini, mulai dari pohon, binatang sampai manusia, semuanya dijamin oleh Allah rezekinya.

Pada beberapa kesempatan dalam pengajian kami dibuktikan bahwa arwah para pahlawan yang gugur di jalan Allah ini masih bisa berinteraksi dengan kita, melakukan dialog dan menyampaikan beberapa pesan penting. Ini adalah suatu bukti nyata bahwa memang mereka itu masih hidup dan kehidupannya dijamin oleh Allah serta masih mengemban beberapa tugas dan kewajiban yang diamanatkan Allah kepadanya.

Mereka itu adalah para pejuang, pelopor, pahlawan dan pendiri negeri ini yang masih memikul tanggung jawab untuk mengantarkan bangsa ini kepada bangsa yang rakyatnya beriman kepada Allah swt. Mereka para Syuhada itu juga merupakan orang-orang yang memegang teguh amanat dan rahasia negara, karena ternyata dibalik kacau balaunya kondisi bangsa kita saat ini terdapat suatu amanat dan rahasia yang tersimpan rapat demi untuk menjamin bahwa suatu saat kelak apabila Allah sudah menentukan waktunya, bangsa ini akan menjadi bangsa yang kuat, besar dan digdaya serta rakyatnya teguh beriman kepada Allah swt. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.55