Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 24 Oktober 2015

Mengenal Diri Sendiri Sebelum Mengenal Tuhan

Dalam beberapa pertemuan dengan guru, beliau menasehati murid-muridnya untuk terlebih dahulu mengenal diri sendiri baru kita bisa mengenal Tuhan.

Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, artinya bersih dan suci. Bahkan sidik jaripun belum ada, sidik jari manusia baru terbentuk setelah 3 bulan umur manusia. Bayi yang baru lahir terlahir dalam keadaan yang suci. Matanya belum bisa membedakan warna, hanya hitam putih saja. Kalau menangis pun matanya belum bisa mengeluarkan air mata seperti orang dewasa. Baru setelah berumur 7 tahun mata seorang manusia menjadi sempurna.

Otot pada mata manusia bisa dengan cepat mengatur adaptasi lensa mata untuk menangkap fokus pada bayangan, sedemikian cepatnya otot mata manusia sehingga tidak ada satupun lensa kamera yang dapat menandingi kecepatannya. Mata anda bisa menampung gambar dengan kapasitas 130 Mega pixel, jauh melebihi kecanggihan kamera yang ada saat ini.

Tahukah anda bahwa sebenarnya yang melihat itu adalah penglihatan dalam otak anda dan bukan mata anda? Mata hanya berfungsi untuk meneruskan sinyal optis dari bayangan ke otak anda. Bayangan yang ditangkap mata adalah terbalik, otak andalah yang menafsirkan bayangan terbalik itu menjadi berdiri dengan benar. Mata anda sebenarnya tidak bisa menangkap warna merah, tahukah anda? Mata anda menangkap komponen warna kuning dan hijau dari benda berwarna merah, lalu otak andalah yang menerjemahkan penglihatan itu menjadi berwarna merah.

Itulah sebabnya mengapa dalam tidur ketika anda bermimpi anda bisa melihat, bisa berkata ataupun bisa mendengar. Karena pada hakekatnya penglihatan dan pendengaran itu tidak berada pada mata atau telinga anda. Panca indera anda ada di dalam diri anda yang sesungguhnya.

Jadi sebenarnya siapakah dan dimanakah diri anda?

Tubuh anda: kepala, tangan, kaki dan raga anda saat ini adalah bukan milik anda. Buktinya sebagian besar dari mereka tidak bekerja atas kehendak anda, mereka mengurus dirinya masing-masing atas perintah dari Pemiliknya, yaitu Allah. Mata anda berkedip 15,000 kali setiap harinya, paru-paru anda bernafas sekitar 24,000 kali setiap harinya dan jantung anda berdetak lebih dari 100,000 kali per harinya. Apakah semua itu anda yang memerintahkannya? Jadi jelas bahwa raga jasmani anda saat ini adalah bukan milik anda. Mereka mengatur dirinya sendiri diluar kontrol dan kehendak anda, mereka hanya tunduk kepada Sang Pemilik sebenarnya yaitu Allah.

Demikianlah perumpamaannya, sehingga ketika anda meng-klaim bahwa tubuh raga anda adalah milik anda maka dia akan membusuk saat anda meninggal dunia. Beberapa orang suci justru tubuhnya mengeluarkan wangi yang harum pada saat meninggal, mengapa? Karena mereka tidak pernah merasa bahwa tubuh yang mereka tempati adalah miliknya, tetapi tubuh itu adalah milik Robb-nya. Akibatnya tubuh akan mengeluarkan wangi yang harum, meskipun tanpa parfum wewangian.

Kalau tubuh dan raga jasmani ini bukanlah milik anda, jadi sebenarnya siapakah dan dimanakah diri anda yang sebenarnya?

Inilah pertanyaan mendasar yang menjadi titik awal pencarian setiap pejalan dan pengembara yang berusaha untuk mencari dan mengenal Tuhannya. Barangsiapa yang sudah menemukan diri sejatinya, maka dia akan menemukan dari mana penglihatan, pendengaran dan perasaannya itu diperoleh. Bahkan dia akan mengerti dari mana hidupnya itu berasal.

Setiap orang bernafas karena dirinya hidup, tapi kebanyakan orang tidak pernah tahu dari mana hidupnya itu berasal. Orang tidak pernah bertemu dengan sejatinya ‘Sang Hidup’ itu sendiri.

Apabila manusia sudah berhasil menemukan diri sejatinya sendiri, maka dia akan tahu bahwa penglihatan, pendengaran, perasaan dan bahkan hidupnya itu sendiri bukanlah miliknya, melainkan itu semua adalah milik Rabbul Alamin. Manusia tidak punya apa-apa, tidak ada sama sekali daya upaya, dan diri sejati manusia itu ternyata bodoh dan tidak mengerti apa-apa, bahkan tidak bisa membaca.

Orang yang sudah menyadari siapa dirinya sendiri, maka mengatakan bahwa Saya sudah melakukan amal sholeh adalah musyrik, Saya sudah bersyahadat adalah perbuatan syirik. Karena bagaimana mungkin seorang yang tidak mempunyai daya upaya bisa melakukan amal sholeh atau berikrar? Tidak ada daya upaya kecuali Billahil Adziim. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 15.05