Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 25 Oktober 2015

Kembali Kepada Jati Diri Tauhid Sebenarnya

Pada suatu kesempatan, guru mengajari murid-muridnya bahwa pelaksanaan dari Tauhid bukan hanya mengucapkan dua kalimat Syahadat semata, akan tetapi menerapkannya pada setiap waktu kehidupan kita. Murid-murid diajarkan untuk berhubungan langsung dengan Allah di setiap saat, bukan hanya di masjid saja, akan tetapi dimana saja tempat kehidupan ini kita jalani.

Di tengah sedemikian gencarnya serbuan dari faham Wahabiah yang melanda tanah air belakangan ini, dipelopori oleh sarjana-sarjana yang kembali dari belajar di timur tengah, maka pengajaran guru ini merupakan sesuatu yang istimewa dan tidak umum.

Faham Wahabiah ini bertambah melenceng manakala al-Quran ini bebas untuk ditafsirkan ataupun dimaknai oleh siapa saja. Tauhid dikelompokan menjadi tiga: Tauhid Rubbubiyah, Ilahiyah dan Asma & Sifat Allah. Sehingga kelompok Wahabi seringkali meng-kafirkan sesama umat Islam karena mereka menganggap Tauhid kebanyakan orang tidak mencakup tauhid Ilahiyah.

Faham Wahabiah tidak pernah mengajarkan cara untuk berhubungan langsung kepada Allah, mengharamkan tariqat dan segala sesuatu yang bertawasul kepada Rasullullah saw. Dalam faham ini kita tidak pernah diperintahkan, tidak pernah diajarkan atau diajak atau bahkan sampai ada yang melarangnya: untuk berhubungan langsung kepada Allah. Menurut faham Wahabiah, sudah cukup al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman dan pegangan hidup, sehingga manusia tidak memerlukan lagi hubungan langsung kepada Allah, juga tidak memerlukan lagi Rasul karena fungsinya sudah selesai saat ayat al-Quran terakhir diturunkan.

Bahkan Allah sekalipun sudah selesai tugasnya dalam membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia, menurut ajaran Wahabiah, karena semuanya sudah tertuang dengan sempurna dalam al-Qur’an.

Anda mungkin tidak menyadarinya, bahwa sebagian besar cara kita beragama saat ini sudah banyak diwarnai oleh faham tersebut. Contohnya? Orang lebih mengutamakan untuk sholat dengan barisan yang lurus dan rapat, ketimbang mengutamakan kekhusukan. Orang lebih mengutamakan menunaikan ibadah haji bahkan sampai berkali-kali, ketimbang membantu fakir miskin di sekitarnya. Orang lebih mengutamakan puasa dari makan dan minum, bahkan sampai-sampai melakukan razia dan sweeping terhadap rumah makan dan restauran, padahal hakekat puasa yang sebenarnya adalah menahan hawa nafsu dan bukan sekedar menahan lapar dan haus semata.

Kita diajari untuk membenci orang Nasrani karena mereka melakukan upaya kristenisasi, juga diajari untuk membenci orang Yahudi karena mereka menindas orang Palestina.

Saudaraku, itu adalah faham yang salah dan keliru. Musuh kita bukanlah orang Nasrani maupun orang Yahudi, akan tetapi syaithan yang senantiasa membisikan kebencian dan segala sumber permusuhan. Kita semua adalah anak cucu Adam as, sudah semestinya kita bersaudara dan bahu-membahu memusuhi syaithan.

Al-Qur’an adalah kitab pedoman, tuntunan agar umat Islam bisa menjalin hubungan dengan Allah dan meningkatkan keyakinannya kepada Allah. Bahwa Allah adalah nyata, ada di tengah-tengah kehidupan kita, menjaga, mengawasi dan memelihara kerajaan-Nya setiap saat.

Pada setiap zaman, Allah menunjuk beberapa orang suci sebagai ulama pewaris nabi, yang akan membimbing manusia dan membetulkan arahnya dari segala macam kekeliruan. Bertawasul kepada Rasullullah sebagai utusan Allah, karena sebenarnya yang mati dan terkubur di tanah Arab adalah jasad dari Ahmad, sedangkan hakekat dari Rasullullah tetap hidup dan kita dilarang untuk mengatakan bahwa beliau mati, sebagaimana Allah melarang kita untuk mengatakan bahwa orang-orang yang mati di jalan Allah itu mati (QS 2:154).

Di akhir pengajian guru mengingatkan murid-muridnya tentang Syahadat, ilmu Tauhid yang sebenarnya dan amalan yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul-Rasul terdahulu. Mari kita kembali kepada jati diri Tauhid yang sebenarnya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.27