Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 5 November 2015

Berpegang Teguh Pada Sunnah Rasul

Dalam suatu malam saat pengajian, guru menerangkan kepada murid-muridnya bahwa ada suatu masa dalam sejarah Islam dimana hadits-hadits palsu banyak sekali bermunculan. Sehingga oleh karenanya kita sebagai umat Islam harus senantiasa waspada dan memeriksa kebenarannya.

Berbeda dengan al-Qur’an, maka hadits dalam perjalanan sejarah ternyata banyak sekali yang bermunculan berupa hadits palsu. Dari 600 ribu hadits yang dikumpulkan al Bukhari, ia hanya memilih 2.761 hadits. Sedangkan imam Muslim, dari 300 ribu hadits hanya memilih 4.000 hadits yang dianggapnya shahih. Abu Dawud, dari 500 ribu hadits hanya memilih 4.800 hadits. Dan imam Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1 juta hadits yang dikumpulkannya, hanya memilih 30 ribu hadits yang dianggap shahih. Artinya pada masa itu, dari 100 hadits yang beredar di masyarakat muslim ternyata lebih dari 97 merupakan hadits palsu.

Bahkan beberapa hadits yang sudah dianggap shahih oleh Bukhari dan Muslim pun harus disertai dengan penjelasan yang benar agar orang awam tidak salah dalam menafsirkannya. Seperti misalnya: “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap sepertiga malam akhir. Ia lalu berkata: ‘Barangsiapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni. Hingga terbit fajar‘ ” (HR. Bukhari 1145, Muslim 758). Hal ini secara logika akal akan menimbulkan kesalahpahaman, karena bumi berbentuk seperti bola dan senantiasa berputar sehingga waktu sepertiga malam akan senantiasa terjadi di seluruh penjuru bumi secara bergantian.

Contoh lainnya adalah hadits mam Bukhari, no. 4850 dan Muslim, no. 2847, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Surga dan neraka saling bertengkar. Neraka berkata, ‘Aku mendapatkan orang-orang yang sombong dan bengis.’ Lalu surga berkata, ‘Mengapa saya hanya dimasuki oleh orang-orang yang lemah dan rendah.’ Allah Tabaraka wa ta’ala berkata kepada surga, ‘Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu aku rahmati hamba-Ku yang aku suka.’ Lalu Dia berkata kepada neraka, ‘Engkau adalah azab-Ku, denganmu aku mengazab hamba-Ku yang aku suka. Setiap dari keduanya akan penuh. Adapun neraka tidak akan penuh kecuali setelah Allah meletakkan kaki-Nya, baru dia berkata, ‘cukup’, ‘cukup’ maka ketika itu neraka akan penuh dan neraka satu sama lain akan terlipat, dan Allah tidak akan menzalimi makhluknya satupun. Adapun surga Allah akan ciptakan makhluk untuknya.” Dalam contoh hadits lainnya disebutkan juga bahwa Allah memiliki betis: “Tuhan kita akan menyingkapkan betis-Nya, maka bersujud kepada-Nya semua laki-laki dan perempuan beriman, dan tertinggal mereka yang biasa sujud di dunia karena riya’dan sum’ah. Dia ingin sujud, tetapi punggungnya menjadi satu ruas saja.”

Tanpa penjelasan yang benar dan jelas terhadap hadits-hadits tadi maka orang akan mudah sekali tergelincir dalam kesalahan penafsiran. Karena Allah tidak mungkin memiliki anggota badan seperti kaki dan betis layaknya mahluk.

Tidak semua hadits ataupun kejadian yang dialami oleh Rasul merupakan Sunnah. Seperti misalnya ketika menjadi imam sholat kemudian Rasullullah batuk, maka batuk itu bukan lah merupakan sunnah yang harus diikuti oleh umat Islam. Atau ketika Rasullullah saw berdehem karena ada sesuatu yang menggelitik kerongkongan beliau ketika berkhutbah, maka itu juga bukan merupakan sunnah yang harus diikuti.

Demikian juga ketika Rasullullah bepergian dengan mengendarai unta, ketika berperang dengan menggunakan pedang, ketika berpakaian dengan menggunakan jubah khas masyarakat arab saat itu, ketika makan dengan menggunakan tangan atau menggosok gigi dengan menggunakan siwak. Maka itu semua bukanlah merupakan sunnah, meskipun banyak hadits yang meriwayatkannya. Apakah ketika dalam peperangan musuh anda berperang dengan menggunakan senapan otomatis M-16 anda akan melawannya dengan pedang karena ingin mengikuti sunnah Rasul? Atau anda akan bepergian dengan mempergunakan unta saat ini?

Ulama saat ini diwajibkan untuk menuntun umat Islam dalam hal memegang teguh Sunnah Rasul agar terbebas dari kekeliruan karena mengikuti hadits palsu atau kesalahan dalam menafsirkan hadits.

Berikut ini adalah contoh dari hadits palsu: “Diamnya orang yang puasa adalah tasbih, tidurnya adalah ibadah, doa’nya mustajab dan amalnya dilipatgandakan.” Diantara dampak negatif hadits ini adalah menjadikan sebagian orang malas dan banyak tidur di bulan puasa dengan alasan hadits ini, padahal seharusnya orang yang berpuasa menyibukkan dirinya dengan shalat, dzikir, doa, berbuat baik, membaca Al-Qur’an dan sebagainya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 01.09