Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 8 November 2015

Berpegang Teguh Pada Sunnah Rasul-2

Saudaraku, izinkan kami untuk menjelaskan sekali lagi tema kali ini yaitu tentang Sunnah Rasul, sumber hukum kedua bagi sebagian besar umat Islam setelah al-Qur’an.

Sebagaimana sumber hukum di negeri ini berawal dari Undang-Undang Dasar 1945, dilanjutkan dengan Ketetapan MPR, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri dan seterusnya. Apa jadinya apabila setiap orang dengan bebasnya bisa membuat Undang-Undang sesuai dengan keinginan dan kepentingannya sendiri? Sudah pasti negeri ini akan menjadi kacau balau.

Nah, hal tersebut terjadi di kerajaan Allah swt, dimana setelah Rasulullullah saw wafat banyak sekali hadits palsu dibuat. Apabila tidak difilter dan disaring dengan hati-hati maka akibatnya sudah pasti kerajaan ini akan kacau balau. Tidak heran apabila selama ratusan tahun lamanya negeri-negeri dengan penduduk mayoritas beragama Islam justru hidup dibawah penjajahan orang-orang non-muslim.

Pada pengajian malam itu, guru menjelaskan mengenai masalah pelik ini sebagai berikut: Kita sebagai umat Islam yang paling pertama adalah berpegang teguh pada al-Qur’an yang keaslian dan isinya dijamin oleh Allah. Adapun untuk masalah hadits dan Sunnah Rasul sepanjang tidak bertentangan dan menerangkan apa yang ada dalam al-Qur’an itu sendiri maka kita wajib untuk mengikutinya. Seperti hadits Rasul yang menerangkan tata cara Sholat, aturan dan adab dalam berpuasa, menunaikan ibadah haji, dsb.

Lama sekali kami sebagai muridnya merenungkan wejangan dari guru tersebut, sampai akhirnya kami memahaminya. Bahwa untuk beberapa hadits yang bersifat baru dan tidak diterangkan dalam al-Qur’an, serta hadits-hadits yang tidak ada pengetahuan kita atasnya, maka lebih baik untuk membiarkannya saja. Tidak mengikuti dan tidak juga perlu menyangkalnya, karena tidak ada kewajiban mengikuti sesuatu yang kita tidak mengerti dan memiliki ilmu atasnya.

Seperti misalnya pada hadits-hadits pada tulisan sebelumnya: apakah Allah swt memiliki kaki dan betis? Kita tidak mengerti, karena yang diterangkan oleh al-Qur’an dan dikonfirmasi oleh para wali dan orang-orang yang dekat sekali hubungannya dengan Allah adalah kiasan tentang Wajah Allah saja, tidak pernah ada penjelasan tentang Kaki dan Betis Allah. Maka hal ini adalah sesuatu yang baru dan tidak ada penjelasannya dalam al-Qur’an. Untuk sesuatu yang baru dan tidak dapat dimengerti seperti ini maka gugur kewajiban kita untuk meyakininya, sampai datang pemahaman dan penjelasan yang jelas tentang hal ini.

Contoh lainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra : “ Jika engkau berkata kepada temanmu : “ Dengarkanlah !“ pada hari Jum’at, sedang imam sedang berkhutbah, maka engkau telah berbuat sia-sia . “ ( HR Bukhari dan Muslim ). Kata-kata: “berbuat sia-sia” adalah tidak sejalan dengan al-Qur’an “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan meskipun sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya” (QS 99:7), jadi tidak ada perbuatan yang sia-sia. Oleh sebab itu maka diperlukan tambahan keterangan apakah sudah terjadi distorsi kalimat pada hadits tersebut ataukah ada penjelasan lainnya, kita tidak mengerti. Kalau kalimat tersebut berbunyi: berkurang pahalanya, atau tidak sempurna ibadah sholat jumatnya, maka hal itu mudah untuk dipahami dan sejalan dengan prinsip al-Qur’an yang dipahami.

Atau hadits: “Barangsiapa yang mengucapkan “la ilaha illallah” maka dia masuk surga.” (HR Ahmad), hadits ini merupakan sesuatu yang baru dan tidak ada keterangan kuat dalam al-Qur’an. Apakah burung beo yang bisa mengucapkan kalimat “la illaha illallah” berarti masuk surga, sedang burung lainnya tidak? Wallahu ‘alam, kita tidak mengerti tentang hadits tersebut dan tidak ada kewajiban kita meyakini dan mengikuti sesuatu yang tidak kita mengerti.

Bahkan dalam pengajian guru tidak menganjurkan murid-muridnya untuk berdoa meminta surga, karena hal ini bertentangan dengan prinsip keikhlasan. Biarkanlah Allah saja yang menentukan nasib kita kelak karena memang sebenarnya itu adalah hak dari Allah swt.

Dengan demikian maka kewajiban kita adalah mengikuti ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang jelas dan cukup pengetahuan kita atasnya. Adapun ayat dan hadits yang tidak cukup pengetahuan kita atasnya maka tidak ada kewajiban untuk mengikuti atau memaksakan diri untuk menafsirkannya. Hingga sampai kepada kita ilmu dan pengetahuan atasnya.

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS 17:36) (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 13.39