Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 9 November 2015

Tata Cara Beribadah Kepada Allah

Setiap agama mengajarkan kepada pemeluknya untuk tunduk patuh dan taat kepada Tuhan, begitu juga dengan Islam. Bentuk dari ketaatan kepada Allah adalah ibadah, dan untuk itulah manusia dan jin diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS 51:56)

Jadi ibadah adalah merupakan suatu pokok ajaran agama yang paling utama, baik itu ibadah dalam arti khusus maupun umum.

Pada saat Rasullullah saw masih hidup dahulu, tidak ada permasalahan sama sekali tentang ibadah dan tata caranya. Akan tetapi saat ini, akibat dari bencana besar yang melanda sejarah umat Islam, yaitu banyaknya hadits palsu, maka saat ini hampir mustahil bisa mendapatkan dan memastikan tata cara ibadah yang sama seperti yang dilakukan oleh Rasullullah saw dahulu.

Apabila kita membuka kitab hadits-hadits dan kitab tuntunan tata cara ibadah dari keempat imam mazhab Ahlus Sunnah: Syafi’i, Hambali, Hanafi dan Maliki, maka tuntunan dan tata cara ibadah yang diajarkannya akan berbeda-beda. Belum lagi apabila ditambah dengan tuntunan tata cara ibadah umat Syi’ah yang berdasarkan tuntunan dari para imam-imamnya, maka tata caranya akan berbeda pula.

Apabila saat ini kita ditanya oleh seorang mualaf yang baru saja masuk Islam, aturan tata cara ibadah manakah yang harus diikuti? Apakah tata cara Sunni atau Syi’ah? Kemudian kalau tata cara Sunni, apakah kemudian harus mengikuti tata cara orang Muhammadiyah, NU ataukah Persis? Tata cara/Manasikh mana yang harus diikuti? Kita tidak tahu mana. Kita bisa bilang semua tata cara/manasikh ibadah Sunni adalah boleh diikuti dan tidak menjadi persoalan penting yang menjadi perselisihan dan perpecahan. Akan tetapi tidak satu pun dari kita bisa memastikan manakah tata cara/manasikh yang benar-benar dipraktekan oleh Rasullullah saw dahulu.

Saudaraku, ibadah bukanlah sebuah perkara yang ringan, ibadah adalah satu dari inti beragama Islam. Bentuk kepatuhan dan ketaatan mahluk kepada Allah swt. Sehingga melaksanakan ibadah dengan tata cara/manasikh yang benar adalah suatu yang paling utama.

Kita semua adalah korban dari begitu banyaknya hadits palsu, sehingga kita tidak lagi bisa memastikan dan mengetahui tata cara ibadah yang dipraktekan oleh Rasullullah saw. Apabila suatu saat kelak umat Islam dari berbagai golongan dan aliran disatukan dalam suatu sholat berjamaah di akhirat kelak, maka dapat dipastikan tata cara beribadah/manasikh sholatnya akan berbeda dengan Rasullullah saw. Apakah tata cara sholat Rasullullah saw akan sama dengan tata cara sholat orang-orang Muhammadiyah, NU, Persis, atau barangkali justru sama dengan orang Syi’ah? Wallahu ‘alam, Allah Yang Maha Tahu.

Dalam hal yang penting ini guru memberikan tuntunan kepada kita. Kita tidak mungkin lagi bisa mengetahui bagaimana aslinya Rasullullah saw dulu beribadah, oleh karenanya pada awal dari ibadah sebagaimana misalnya Sholat, maka penting bagi kita untuk menyerahkan dan memasrahkan tata cara ibadah/manasikh ini kepada Allah swt yang Maha Mengetahui.

اِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Sholat hamba, dan tata cara ibadah/manasikh hamba, hidup hamba dan mati hamba hanya ditujukan kepada Allah Tuhan Alam Semesta.”

Mudah-mudahan Allah swt mengampuni kita semua. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.25