Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 10 November 2015

Keluar Dari Masa-Masa Kelam Sejarah Islam

Rasullullah saw wafat pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11H (jadi sama dengan tanggal kelahiran beliau). Penguburan jenazah beliau ditunda selama 2 malam dan baru dikubur pada tengah malam Rabu oleh segelintir keluarga dekatnya. Alasan penundaan adalah karena umat Islam saat itu berkumpul di Tsaqîfah Bani Sâ‘idah untuk memilih khalifah yang baru menggantikan Rasullullah saw.

Pergantian pucuk pimpinan atau khalifah dianggap oleh sebagian besar Ulama Islam adalah lebih penting dibandingkan dengan mengurus jenazah Rasullullah saw. Namun sayangnya sejarah membuktikan bahwa pengangkatan khalifah itu bukannya menjadikan umat Islam bersatu dan solid, namun justru sebaliknya. Inilah awal mula perpecahan umat Islam yang pertama, pecah menjadi dua: Ahlus Sunnah wal Jama’ah (pengikut Sunnah dan mayoritas kaum muslimin) dan Syiah (pendukung Ali bin Abi Thalib).

Kemudian setelah itu dengan pengangkatan-pengangkatan khalifah berikutnya tidak membuat kondisi umat Islam bersatu, namun sebaliknya malah terjadi banyak silang sengketa. Khalifah Utsman bin Affan ra wafat karena dibunuh, demikian juga khalifah Ali bin Abi Thalib ra wafat karena ditebas pedang.

Perpecahan bahkan perang terjadi, perang Jamal meletus yang menelan korban sekitar 12 ribu umat Islam mati dengan sia-sia. Perang ini ditengarai karena adanya perselisihan antara Ali bin Abi Thalib ra dengan Aisyah ra, meskipun sebab sebenarnya dibantah oleh beberapa ulama dan masih dalam perdebatan sampai sekarang. Kemudian juga meletus perang Shiffin antara umat Islam yang mendukung ke-khalifahan Ali bin Abi Thalib ra dengan kerajaan Muawiyah bin Abu Sufyan yang menuduh Ali bin Abi Thalib ra ikut mendukung pembunuhan Utsman bin Affan ra. Jumlah korban umat Islam menurut Ibnu Katsir adalah sekitar 60 ribu umat Islam mati dengan sia-sia.

Kemudian setelah itu umat Islam ditimpa lagi oleh petaka yang sangat besar, yaitu masa dimana hadits-hadits palsu dibuat. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, lebih dari 97% dari hadits yang beredar di kalangan umat Islam saat itu merupakan hadits palsu.

Pada masa era dinasti Abbasiyyah muncullah mazhab-mazhab seperti Syafi’i, Hanafi, Hambali dan Maliki yang merupakan ikhtiar umat Islam untuk menyaring dan memurnikan ajaran Islam dari khurafat, bid’ah dan hadits-hadits palsu. Apakah dengan kemunculan mazhab-mazhab tersebut umat Islam dapat keluar dari masa-masa kelamnya? Jawabannya adalah tidak.

Semenjak munculnya mazhab-mazhab tersebut selama kurang lebih seribu tahun yang lalu, selama itu pula sebagian besar energi, perhatian, kajian dan fokus umat Islam tertuju pada pembahasan fiqh, perbedaan pandangan dan perbeadaan tata cara ibadah. Ratusan juta umat Islam semenjak seribu tahun lalu disibukan oleh aktivitas pengajian yang sebagian besar isinya adalah menerangkan pandangan, alasan serta dalil dari masing-masing mazhab dan aliran atau golongan Islam.

Secara umum dan general umat Islam adalah umat yang satu yang tidak memperdulikan berbagai macam perbedaan. Akan tetapi pada hakekatnya, pandangan dan tata cara ibadah umat Islam tidak lagi bisa bersatu sebagaimana halnya di zaman Rasullullah saw dahulu.

Satu-satunya cara untuk keluar dari keterpurukan ini adalah, sebagaimana yang dijelaskan oleh guru, ialah kembali kepada jalan Keimanan ataupun Tauhid.

Apabila kita kumpulkan orang-orang yang beriman, dari zaman Nabi Adam as sampai dengan saat ini, meskipun tata cara ibadah dan pandangan serta pengetahuannya berbeda-beda, namun oleh karena prinsip dasar Keimanan dan Tauhidnya sama, maka mereka orang-orang yang beriman tersebut akan bersatu dan tidak saling berpecah belah. Itulah keindahan dan kehebatan dari Iman dan Tauhid kepada Allah swt. Hanya Iman dan Tauhid saja yang bisa menyatukan.

Mereka, para Nabi dan Rasul sesudahnya mengakui dan membenarkan para Nabi dan Rasul sebelumnya, kitab suci yang dibawanya juga mengakui dan membenarkan kitab suci sebelumnya. Mereka itu satu sama lainnya saling menghormati dan bersatu dalam Iman Kepada Allah swt, meskipun syariat mereka berbeda-beda. Demikian juga para wali Allah dan orang-orang beriman sebelumnya, mereka satu sama lain tidak ada yang saling menyalahkan. Semuanya bersatu dalam Tauhid kepada Allah swt.

Fiqh dan Pendapat Syariat sudah terlanjur dirusak oleh hadits-hadits palsu sehingga tidak mungkin lagi kita dapat menyatukan keempat mazhab besar tadi, tidak mungkin lagi dapat menyatukan antara Sunni dengan Syiah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.25