Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 15 November 2015

Menegakan Haq Menyerang Kebathilan

Tiga orang korban tewas antara lain Roni, Mulyadi, dan Tarno adalah jemaat Ahmadiyah, korban aksi penyerangan di Umbulan, Cikeusik, Pandeglang, Banten, pada hari Minggu, 6 Februari 2011. Sekitar 1000 orang warga di desa tersebut menyerbu jemaat Ahmadiyah dan membakar beberapa kendaraan roda empat dan motor. Di lokasi lainnya: di Bogor pada Oktober 2010, massa membakar habis 4 rumah warga, 1 unit mobil, dan beberapa bagian masjid milik jemaat Ahmadiyah.

Di Sampang, Madura, dua warga Syiah meregang nyawa akibat penyerangan yang dilakukan ± 500 (lima ratus) orang. Korban meninggal, yakni Hamamah (50 tahun) dan Thorir meninggal akibat serangan senjata tajam dan tumpul. Selain itu terdapat 4 orang luka berat, 6 orang luka ringan dan seorang wanita bahkan pingsan.

Demikianlah cara-cara yang ditempuh oleh sebagian kelompok orang Islam di negeri ini, yaitu dengan menyerang secara membabi buta setiap kebathilan atau faham yang dianggapnya bathil, demi menegakan al-Haq (Kebenaran).

Contoh-contoh kejadian lainnya masih banyak sekali, sehingga halaman ini tidak mungkin bisa memerinci kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam terhadap kelompok lemah lainnya yang dilakukan atas dalih menegakan Kebenaran.

Saudaraku, menegakan al-Haq (Kebenaran) dengan cara menyerang kebathilan tidak pernah dicontohkan oleh Rasullullah dan para Rasul/Nabi sebelumnya. Tidak juga diperintahkan oleh al-Qur’an dan dianjurkan oleh para Wali dan orang-orang Shaleh yang terdahulu.

Al-Qur’an menyatakan bahwa cara yang ditempuh untuk melawan kebathilan adalah dengan cara membawa al-Haq (Kebenaran) di tengah-tengah masyarakat, maka kebathilan akan lenyap dengan sendirinya.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS 17:81)

Cara yang ditempuh Rasullullah saw untuk menyuruh orang menerima Kebenaran adalah dengan cara memberi contoh tauladan, bukan dengan cara kekerasan atau dengan cara berceramah.

Cara menegakan Kebenaran dengan menyerang Kebathilan, membunuh dan kekerasan adalah cara-cara yang diajarkan oleh iblis dan syaithan. Yaitu mengajak manusia untuk saling membunuh, membawa bencana dan malapetaka, dengan dalih apapun, termasuk dengan dalih agama.

Hari ini beberapa kelompok umat Islam merayakan kemenangan atas keberhasilan delapan orang teroris menyerang Paris pada Jumat malam 13 November 2015.

Padalah Rasullullah saw bukanlah seorang teroris, bukan pula orang yang menganjurkan tindakan teroris. Dalam peperangan sekalipun pasukan Islam dilarang untuk merusak pohon, membunuh binatang, melukai wantia, anak-anak dan orang tua. Tidak boleh menyerang orang yang tidak bersenjata dan tidak berdaya.

Tidak boleh membunuh karena kebencian, sebagaimana dalam suatu riwayat sayidina Ali bin Abi Thalib ra bertempur dalam perang Khandaq melawan Amr bin Abd Wad, dan tatkala musuhnya itu terkapar dan sudah tidak berdaya, ketika nyawa musuh sudah diujung tanduk karena pedang Zulfiqar sebentar lagi akan menebas lehernya, musuhnya itu meludahinya. Emosi kemarahan sayidina Ali naik, kemudian dia teringat pesan Rasullullah saw tadi, sehingga kemudian dia mengurungkan niatnya untuk membunuh musuhnya tadi dan membiarkan dirinya lepas dari kemarahan. Begitulah norma etika dan tauladan para pasukan Islam seperti yang dicontohkan oleh Rasullullah saw.

Saudaraku, berbuat kerusakan, menyerang kaum yang tidak berdaya dan menebar teror adalah cara-cara dan langkah-langkah yang dianjurkan oleh Syaithan. Janganlah kita mengikuti langkah-langkah Syaithan, dengan alasan menyerang Kebathilan. Karena bukan begitu caranya melenyapkan Kebathilan.

Bawalah al-Haq (Kebenaran) ke tengah-tengah masyarakat, berikan contoh tauladan agar masyarakat mengikutinya. Kebathilan akan hilang dengan sendirinya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.40