Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 19 November 2015

Merokok Tidak Haram

Pada suatu kejadian misalkan kita memergoki seseorang telah mencuri sesuatu. Menurut akal pikiran kita, menurut etika yang berlaku, norma dan hukum masyarakat jelas perbuatan mencuri itu adalah salah. Apakah setelah kejadian tersebut kita atau siapa pun boleh menetapkan si pencuri tadi itu bersalah? Apakah kita boleh menghukumnya?

Apa jadinya negara ini apabila setiap orang boleh menjadi hakim? Boleh menghakimi siapa saja yang dianggap atau memang terbukti bersalah? Tentu akan terjadi kekacauan dan ketidakadilan. Meskipun setiap orang memiliki akal pikiran yang bisa dipergunakan untuk menimbang dan menilai apakah suatu perbuatan itu salah atau benar, akan tetapi pada prakteknya tidak dibenarkan setiap orang untuk berperan menjadi hakim dan polisi yang akan menghakimi dan menghukum siapa saja dan dimana saja. Tugas tersebut sudah diatur dalam pemerintahan suatu negara menjadi tanggung jawab hakim dan polisi untuk memberikan keputusan hukum dan menjalankannya.

Nah, bagaimana halnya dengan hukum Syariat Islam?

Salah satu dari sendi-sendi agama Islam adalah Syariat, yaitu seperangkat aturan agama yang diperintahkan atau dilarang oleh Allah swt yang bersifat umum, menyeluruh dan jelas. Ada beberapa dari aturan tersebut yang memiliki pengecualian karena suatu kondisi tertentu dan pengecualian tersebut juga dijelaskan oleh Allh swt secara gamblang di dalam al-Qur’an. Aturan-aturan tersebut antara lain adalah aturan tentang halal, haram, makruh atau mubah, dsb.

Aturan Syariat Islam secara mutlak diatur hanya oleh Allah swt dan tidak boleh aturan tersebut ditambah atau dikurangi ataupun dirubah oleh manusia. Jadi penetapan hukum halal dan haram pun adalah mutlak hak Allah swt saja yang mengaturnya. Manusia tidak boleh.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالاً قُلْ أَاللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ
“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?” (QS 10:59)

Bahkan Nabi/Rasul pun tidak boleh membuat aturan halal atau haram tanpa dilandasi oleh perintah Allah.
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Ya Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagi kamu, kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 66:1)

Demikian juga orang-orang yang beriman dilarang oleh Allah swt untuk menetapkan sendiri atau merubah hukum halal dan haram.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Allah telah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS 5:87)

Penerapan hukum Syariat Islam yang telah ditetapkan oleh Allah swt, di sepanjang sejarah umat Islam, memerlukan peran ulama untuk menjelaskannya, memberikan dasar analogi yang jelas terhadap berbagai macam perkara sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti misalnya menghisap ganja atau menghirup aroma lem sehingga seseorang bisa teler atau mabuk. Hal seperti ini tidak ada di zaman Rasullullah saw dulu, akan tetapi para ulama bisa menganalogikan hal ini seperti minum khamar yang juga menyebabkan mabuk. Sehingga bisa disimpulkan bahwa menghisap ganja atau menghirup aroma lem adalah haram.

Akan tetapi dalam kasus lainnya seperti misalnya merokok, menyanyi atau ikut serta dalam asuransi BPJS, hal ini tidak ada penjelasan maupun analogi yang bisa dikaitkan dengan hal ini di dalam al-Qur’an. Oleh sebab itu maka untuk hal-hal semacam itu tidak boleh Nabi/Rasul ataupun siapa saja untuk menambahkan aturan halal dan haram kedalam Syariat Islam. Sehingga dengan demikian maka Syariat Islam adalah murni buatan Allah swt dan tidak ada sama sekali peran manusia dalam pembuatan dan pembentukannya.

Apabila saat ini, melalui serangkaian penelitian dan pengujian misalnya, kita bisa menyimpulkan sesuatu itu lebih banyak manfaat ataukah mudharatnya. Apakah berarti kita boleh mengeluarkan fatwa baru tentang halal dan haramnya sesuatu tadi? Apakah artinya kita boleh menambahkan suatu aturan yang baru kedalam Syariat Islam?

Nah, khususnya tentang merokok, apakah karena berdasarkan hasil uji kesehatan kita boleh menambahkan aturan baru yaitu merokok itu haram kedalam Syariat Islam?

Merokok itu seperti halnya makan dan minum saja. Kalau makanan atau minuman adalah merupakan konsumsi perut dan sistem pencernaan, maka merokok adalah konsumsi bagi pikiran dan sistem psikologis manusia.

Kita boleh mengatakan bahwa merokok membahayakan kesehatan bagi sebagian besar orang, tetapi bukan berarti kita boleh menetapkan hukum haram.

Ketahuilah karena ternyata tidak semua manusia mengalami efek yang buruk karena merokok. Beberapa orang justru tidak terpengaruh sama sekali kesehatannya lantaran merokok, padahal yang bersangkutan termasuk perokok berat. Beberapa orang lainnya tidak mengalami gangguan kesehatan apa-apa lantaran merokok dalam jumlah dan dosis yang kecil. Untuk sebagian perokok lainnya justru merokok itu baik bagi kondisi psikologisnya, dan tidak merokok malah mengakibatkan depresi dan gangguan psikologis.

Merokok juga bukan merupakan upaya untuk bunuh diri ataupun suatu pekerjaan yang sia-sia, karena tidak pernah ada kasus orang bunuh diri dengan cara merokok. Bagi beberapa orang merokok bahkan memiliki manfaat psikologis dan spiritual, seperti perasaan tenang menghadapi beban kehidupan yang semakin berat, ataupun salah satu cara untuk membakar kebathilan yang ada menempel di dalam tubuh.

Memang benar bahwa merokok tidak dianjurkan bagi kebanyakan orang, bagi anak-anak dan wanita. Bahkan untuk beberapa orang dengan kondisi fisik tertentu atau menderita penyakit tertentu yang kronis, merokok adalah dilarang karena bisa merusak kesehatan. Namun demikian bukan berarti bahwa kita boleh menetapkan hukum haram, karena kita bukanlah Allah.

Apa jadinya kalau seorang ulama atau beberapa orang ulama menetapkan hukum haram yang merupakan sesuatu hal yang baru untuk ditambahkan kedalam Syariat Islam? Maka ulama tadi telah memfungsikan dirinya sebagai tuhan, karena Syariat Islam adalah sesuatu hal buatan Tuhan. Sebagaimana pendeta Yahudi dan Nasrani sebelumnya juga telah merubah dan menambahkan hukum halal dan haram kedalam Syariat mereka. Maka menurut Allah pendeta-pendeta tadi itu telah menjadikan diri mereka tuhan.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS 9:31)

Kesimpulan: Merokok bagi kebanyakan orang adalah tidak baik untuk kesehatan, tidak dianjurkan untuk anak-anak dan wanita. Bagi sebagian lainnya merokok bahkan membahayakan kesehatan, namun bagi sebagian lainnya justru merokok adalah baik dan tidak membahayakan kesehatannya.

Apapun fakta hasil pengujian kesehatan dan alasannya, karena tidak ada larangan Allah dalam al-Qur’an untuk merokok, maka merokok adalah tidak haram. Seseorang atau pun beberapa ulama yang menambahkan aturan baru dalam Syariat Islam seperti menambahkan hukum haram adalah boleh-boleh saja, asalkan ulama tersebut bisa merubah dirinya menjadi tuhan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.55