Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 21 November 2015

Sudahkah Anda Bertobat?

Syariat yang pertama kali diterapkan Allah swt kepada manusia (Nabi Adam as) yaitu boleh menikmati segala nikmat Allah di dalam firdaus, kecuali mendekati satu pohon, yang oleh beberapa kalangan disebut dengan pohon buah Quldi.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا
مِنْ الظَّالِمِينَ

“Dan kami berfirman: ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.“ (QS 2:35)

Pada saat pertama kali menerima syariat ini dari Allah swt, Nabi Adam as tidak pernah mempertanyakan alasannya apa, atau kadar manfaat dan mudharatnya seperti apa. Akan tetapi dengan penuh ketaatan dan keikhlasan Nabi Adam as menerima syariat dari Allah swt itu apa adanya. Di dalam Al-Qur’an pun tidak pernah dijelaskan mengapa dan azas manfaat/mudharat dari syariat tersebut.

Inilah keutamaan dan kesempurnaan dari manusia dibandingkan dengan mahluk lainnya.

Bahkan Malaikat sekalipun ketika menerima informasi bahwa Allah swt akan mengangkat seorang khalifah di muka bumi ini, mereka mempertanyakan hal ini kepada Allah swt.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’. “ (QS 2:30)

Apakah kemudian Allah menjelaskan alasannya mengapa kepada malaikat? Tidak.

Untuk beberapa hal seperti urusan penerapan syariat, pengangkatan khalifah di muka bumi ini maka itu adalah hak asasi dari Allah swt yang tidak memerlukan penjelasan kenapa Allah berlaku demikian.

Kemudian singkat cerita, iblis yang dilaknat oleh Allah swt menggoda siti Hawa dan Nabi Adam as, sehingga keduanya mendekati pohon itu dan memakan buahnya. Sehingga karena melanggar syariat Allah tersebut keduanya harus turun ke bumi.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Adam as setelah menyadari kesalahannya? Menurut riwayat Nabi Adam as menyesali perbuatannya dan bertobat sepanjang hari, siang dan malam. Tobat tersebut dilakukannya selama kurang lebih 350 tahun lamanya, hingga akhirnya Allah Yang Maha Pengampun menerima tobatnya dan mengampuni kesalahannya.

Coba bandingkan dengan iblis yang menolak perintah Allah swt, setelah Allah melaknatnya maka yang dilakukan oleh iblis bukannya menyadari kesalahannya dan meminta tobat, melainkan bersumpah untuk menyesatkan umat manusia anak cucu Adam dari jalan yang lurus.

Nah, di zaman sekarang, biasanya bentuk tobat yang dilakukan oleh umat Islam hanya sebatas membaca istigfar sebanyak 33 kali sehabis sholat. Apakah hal yang demikian itu cukup?

Dosa manusia di zaman sekarang ini jauh lebih hebat dibandingkan dengan dosa Nabi Adam as. Ada yang menipu, berzina, berbohong dan melakukan korupsi. Coba bandingkan dengan dosa memakan buah Quldi, mana menurut anda yang lebih berat dosanya?

Nah, jadi anda sudah bisa menyimpulkan sendiri, apabila Nabi Adam as memerlukan waktu selama 350 tahun bertobat untuk bisa diampuni oleh Allah swt, maka seharusnya seperti apakah kita bertobat sekarang ini? Allah Maha Pengampun, akan tetapi sayangnya manusia saat ini tidak pernah bersungguh-sungguh untuk memohon ampun kepada Allah swt. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 09.45