Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 26 November 2015

Negara Dalam Keadaan Darurat

Ketika pada hari Jumat tanggal 13 November 2015 yang lalu terjadi serangan teroris di kota Paris, Perancis yang dimulai pada jam 21.16 waktu setempat, kemudian disusul dengan beberapa peristiwa serangan lainnya setelah itu. Maka pada jam 23.55 waktu setempat, presiden Perancis segera memberlakukan negara dalam keadaan darurat, dalam waktu kurang dari 2 jam setelah serangan teroris pertama. Dengan pemberlakuan keadaan darurat tersebut maka pemerintah memberlakukan peraturan khusus kepada negara dan rakyatnya untuk menjamin pulihnya kondisi keamanan negara.

Kejadian lainnya di Jepang pada tanggal 11 Maret 2011, gempa besar berkekuatan 9 skala richter mengguncang kawasan Tohoku di pesisir pantai Pasifik. Sekitar 1 jam kemudian tsunami setinggi 10 meter menghantam kawasan prefektur Miyagi dan sekitarnya, kurang lebih sekitar 15 ribu nyawa melayang akibat kejadian itu. Pemerintah Jepang segera mengumumkan status negara dalam keadaan darurat dan penduduk di dekat lokasi kejadian bencana segera dievakuasi ke tempat pengungsian.

Begitulah kira-kira gambaran pemerintahan suatu negara menghadapi kejadian dan bencana yang terjadi di negaranya dengan segera memberlakukan status negara dalam keadaan darurat, demi untuk menjamin bahwa pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah cepat untuk segera memulihkan keadaan dan kondisi negara tersebut.

Adapun apa yang saat ini terjadi di negeri kita, Indonesia adalah sesungguhnya sesuatu yang justru tidak disadari oleh kebanyakan ulama dan penduduknya: yaitu negeri yang tengah diazab oleh Allah swt. Kebanyakan dari ulama dan penduduknya lalai akan hal ini, sehingga karenan kelalaiannya itu tidak ada pemberlakuan status keadaan darurat di negeri ini.

Sepanjang sejarahnya, Indonesia adalah negeri yang subur makmur, Allah melimpahkan anugerahnya kepada negeri ini dengan berkah dari langit dan dari bumi: yaitu hujan yang akan menyuburkan tanahnya dan bumi dengan hasil alam yang melimpah ruah. Mulai dari minyak, hasil tambang, hasil hutan dan bahkan gunung yang terbuat dari emas pun ada di Indonesia. Akan tetapi sayang, kemudian penduduknya lalai dan tidak lagi beriman kepada Allah swt, meskipun jumlah umat yang mengaku beragama Islam banyak sekali akan tetapi jumlah penduduk yang beriman sedikit sekali dan tiap tahunnya justru semakin berkurang.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ
بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami azab mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

Begitulah ketetapan Allah swt yang berlaku di setiap negeri dan di setiap zaman, sebagaimana yang juga berlaku kepada Firaun dan rakyat Mesir pada masa itu.

Mesir adalah negeri yang makmur kala itu dan Firaun memerintah negeri itu tanpa dilandasi oleh keimanan kepada Allah swt meskipun telah diperingatkan oleh Nabi Musa as. Maka kemudian Allah swt meng-azab mereka, sedangkan mereka lalai akan azab Allah swt itu.

فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ
“Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.” (QS 7:136)

Bagaimanakah jalan keluar dari Azab Allah swt ini?

Untuk bisa keluar dari azab Allah swt ini tidak ada lagi pilihan lainnya selain dari pada kembali beriman kepada Allah swt. Mumpung masih ada waktu, maka sekaranglah saat yang tepat untuk kembali beriman kepada Allah swt, jangan seperti Firaun yang di saat menjelang ajal baru menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa as dan Harun as.

Kemudian bertobat dengan sesungguh-sungguhnya, karena sesungguhnya Allah swt adalah Maha Pengampun dan akan menerima tobat dari hamba-hambaNya. Mudah-Mudahan Alalh swt mengampuni dosa dan kesalahan penduduk negeri ini dan segera mengangkat azab dari padanya.

Yang terakhir adalah bertawasul kepada Rasullullah saw, sebagai pemimpin umat Islam mudah-mudahan melalui syafaatnya Allah swt berkenan untuk mengangkat azab dari negeri ini.

Sebagai perwujudan dari ketiga hal tersebut di atas, maka kami menganjurkan agar umat Islam di negeri ini banyak-banyak mengamalkan zikir berupa Syahadat, Istighfar dan Shalawat. Ini adalah bentuk perwujudan dari ketetapan hati untuk Beriman dan Bertobat kepada Allah swt serta Bertawasul kepada Rasullullah saw. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 03.35