Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 10 Desember 2015

Bagaimana Menyatukan Ulama ?

Umat Islam yang terpecah belah saat ini, di Indonesia dan di belahan dunia lainnya, tidak lepas dari peran para ulama yang ada di belakangnya. Tidak mungkin umat Islam menjadi terkotak-kotak seperti sekarang ini kalau tidak ada ulama yang mendahuluinya.

Oleh karena beberapa ulama terpecah, baik dalam hal pendapat, mazhab maupun prinsip dasar agamanya, maka kemudian ulama tadi diikuti oleh beberapa kalangan dari umat Islam. Sehingga dengan demikian maka upaya yang harus dilakukan untuk menyatukan umat Islam ini adalah dengan cara menyatukan ulamanya terlebih dahulu.

Mari kita ambil satu contoh sebagai bahan kajian tentang hal ini. Misalnya saja dalam kasus penetapan 1 Ramadhan sebagai awal puasa, penetapan 1 Syawal sebagai hari raya Idul Fitri, maupun penetapan tanggal 10 Zulhijah sebagai hari raya Idul Adha.

Di Indonesia belakangan ini terjadi perbedaan penentuan tanggal, sehingga hari raya umat Islam seperti Idul Fitri dirayakan tidak dalam waktu yang bersamaan antara pemerintah dan kalangan dari jamaah NU, dengan kalangan jamaah Muhamadiyah, Persis ataupun penganut tarikat Syattariyah di Padang Pariaman. Masing-masing ulama dari kalangan tersebut memiliki pendapat dan metode sendiri-sendiri yang saling berlainan dalam menetapkan tanggal hari raya. Maka terjadilah apa yang terjadi belakangan ini, hari raya umat Islam dirayakan dalam waktu yang tidak bersamaan.

Kalau kita bandingkan dengan hari raya umat beragama lainnya seperti Katolik, Kristen, Hindu, Budha ataupun Konghucu, maka hanya umat Islam sajalah yang merayakan hari rayanya tidak secara bersamaan. Kita sebagai umat Islam yang mengakui keluhuran nilai-nilai agamanya seharusnya malu dengan kenyataan ini. Seharusnya kita bisa mencontoh bagaimana dalam hal penetapan tanggal hari raya ini umat beragama lainnya tidak memiliki perbedaan diantara para pemeluknya.

Apa yang terjadi saat ini adalah perbedaan pendapat dari kalangan ulama, dimana ulama yang satu berpedoman pada cara penetapan berdasarkan melihat hilal bulan, sementara yang lainnya berpedoman pada penetapan berdasarkan hisab dan perhitungan ilmu falak. Bahkan ada juga aliran lainnya yang menetapkannya dengan cara berpedoman pada penetapan hari raya di tanah Mekah.

Nah, para ulama yang berselisih pendapat itu dibiarkan saja, lalu diserahkan bagi umat Islam kebanyakan untuk menentukan pilihannya masing-masing. Sesuai dengan keyakinan dan pendapatnya sendiri-sendiri.

Paling tidak ada 2 kesalahan besar dari fakta ini:
1. Umat Islam dibiarkan untuk memilih sendiri suatu hal yang seharusnya menjadi kewajiban ulama lah untuk menentukan mana pilihan metode yang benar, karena kewajiban untuk memiliki ilmu dan pengetahuan tentang penetapan tanggal hari raya bukan pada umat Islam tetapi pada ulamanya. Jelas bahwa pengetahuan kebanyakan umat Islam tentang hal ini tidaklah mendalam, sehingga tidak bisa diharapkan bahwa umat Islam dengan ilmu yang sangat terbatas itu dapat menentukan pilihan metode penetapan hari raya dengan benar.
2. Perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang penetapan tanggal hari raya ini tidak boleh dibiarkan, karena perbedaan di kalangan ulama sama dengan perpecahan.

Dalam hal ini kami memandang perbedaan penetapan waktu hari raya bukanlah merupakan suatu rahmat Allah, melainkan suatu bencana. Adalah malapetaka yang besar bagi umat Islam untuk melihat kenyataan bahwa perayaan hari raya umat Islam dirayakan tidak secara bersamaan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ
وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS 4:59)

Jadi kami berpesan kepada Ulil Amri di negeri ini agar segera mengumpulkan seluruh ulama dari segala kalangan, disatukan dalam suatu forum dan majelis. Tidak peduli apa yang terjadi di dalam majelis itu, atau seperti apa panasnya perdebatan di dalamnya. Yang terpenting bagi umat Islam adalah output hasil dari majelis tersebut adalah satu pendapat yang sama yang disepakati oleh semua kalangan ulama.

Sehingga umat Islam tidak perlu lagi untuk memilih, membuat pertimbangan yang sulit atau menyimpan kebimbangan. Semuanya pasti akan mengikuti satu pendapat saja, sehingga dengan demikian maka umat Islam bisa bersatu kembali, berpuasa dan merayakan hari raya secara bersamaan. Begitulah seharusnya “Umatan Wahidatan”, umat yang bersatu dan bisa menjadi suri tauladan bagi seluruh alam, dan bukan malah sebaliknya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.05