Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 10 Desember 2015

Inilah Salah Satu Buktinya

Lebih dari 200 juta Umat Islam di Indonesia tidak ada nilainya apa-apa di hadapan Allah swt, apabila jumlah yang besar tersebut ternyata bukan merupakan umat yang beriman. Kami menilai bahwa jumlah orang yang beriman atau bertauhid di negeri ini ternyata jumlahnya sangat sedikit sekali.

Sebagian besar dari umat adalah orang-orang yang memeluk agama Islam, akan tetapi tidak merupakan ataupun belum merupakan orang yang beriman.

Apa buktinya?

Marilah kita membuktikan pernyataan ini dari salah satu contoh praktek beribadah umat Islam kebanyakan: yaitu ibadah haji atau umroh ke tanah suci.

Setiap tahunnya kira-kira setiap negara mendapatkan jatah kuota jamaah haji sekitar 1% dari total penduduk muslimnya. Akan tetapi karena adanya pembangunan di masjidil Haram maka kuota untuk Indonesia sejak tahun 2003 – 2015 adalah sekitar 168 ribu jamaah dan jumlah kuota ini akan menjadi sekitar 188 ribu di tahun depan. Ditambah lagi dengan jumlah jamaah Indonesia yang melaksanakan ibadah umroh ke tanah suci yaitu sekitar 500 ribu per tahunnya.

Sedemikian besar jumlah jamaah haji dan umroh asal Indonesia per tahunnya, apabila anda melakukan survei, mengadakan pengamatan dengan seksama: apa motivasi, niat dan keinginan mereka para jamaah dari Indonesia tersebut melaksanakan ibadah haji atau umroh?

Sebagian besar ada yang menginginkan untuk dapat menghapus dosa-dosanya, ada lagi yang menginginkan agar bisa mendapat pahala yang sebesar-besarnya. Ada yang menginginkan agar doanya dapat terkabul. Sehingga pantas saja begitu berjubel dan berdesak-desakan para jamaah berdoa di depan hijr Ismail ataupun di al-Multazam dengan hasrat agar doa mereka dapat terkabul.

Tidak juga sedikit dari para jamaah yang memiliki hasrat keinginan untuk bisa sukses dalam usahanya, menjadi berkah segala ikhtiar dan perniagaannya. Bisa menjadi kaya.

Astagfirullah.... ini ibadah haji dan umroh koq jadi seperti ritual pesugihan saja ya? Sama-sama mengharapkan kekayaan sepulang dari melaksanakan ibadah ritualnya.

Bahkan ada seorang jamaah haji asal Indonesia asal Sulawesi Selatan yang nekat menggunting sebagian kecil kain kiswah penutup ka’bah demi untuk dijadikan jimat agar keluarganya bisa sembuh dari penyakitnya.

Inilah salah satu buktinya, bahwa sedemikian besar pemeluk agama Islam di Indonesia, sedemikian besar jumlah jamaah haji dan umroh dari Indonesia, tidak ada nilainya di hadapan Allah swt. Sebagian terbesarnya bukanlah merupakan golongan dari orang-orang yang beriman.

Melaksanakan ibadah haji dan umroh, seyogyanya adalah memenuhi seruan dari Nabi Ibrahim as, menjadi tamu undangan Allah swt. Bukan tempat untuk menghapus dosa, bukan tempat untuk meminta pahala ataupun tempat untuk mengharapkan terkabulnya doa.

Seseorang yang masih mengkhawatirkan bahwa Allah mungkin tidak bersedia mengampuni hambaNya kecuali di tanah suci, atau mengganjar dan mengkaruniai hambanya kecuali dia melaksanakan ibadah haji atau umroh, atau seseorang yang meragukan janji Allah untuk mencukupkan nafkah hambaNya, maka orang tersebut bukanlah merupakan golongan orang yang beriman.

Seseorang yang bertauhid akan percaya dengan sesungguh-sungguhnya, akan memasrahkan segala urusannya di dunia dan di akhirat nanti hanya kepada Allah saja. Itulah ajaran dan prinsip tauhid yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as dan dicontohkan oleh Rasullullah saw.

Melaksanakan ibadah haji dan umroh, tanpa dilandasi oleh Tauhid kepada Allah swt, adalah suatu perbuatan yang tidak bermakna. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.05