Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 12 Desember 2015

Pesan dari Tamu Istimewa

Pada suatu malam saat pengajian di YAKDI, kami kedatangan seorang tamu istimewa dari tanah Arab. Dia adalah salah satu tokoh agama Islam dari tanah Mekkah yang berkenan hadir pada pengajian kami malam itu. Berikut ini adalah isi dari wejangan dan pesan dari Sang Tamu:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Sahabat-sahabatku sekalian umat Islam di Indonesia, pada malam hari ini ana sengaja datang ke Indonesia. Ana ucapkan terima kasih kepada pimpinan majelis ini yang telah memberikan kesempatan untuk membahas tentang ibadah umat Islam seluruh dunia yang pergi ke tanah suci. Mengapa saat ini di tanah suci banyak sekali kejadian-kejadian yang mengharukan.

Ini seharusnya menjadi kajian bagi para ulama di Indonesia ini, karena Indonesia ini adalah negara Tauhid. Negara Tauhid. Sedangkan kepergian ke negara kami itu, ke Mekkah al-Muqaromah adalah hasil dari doa nabiyullah Ibrahim as. Itulah bukti bahwa doa nabi Ibrahim as dikabulkan Allah.

Itulah bukti dari hebatnya kuasa Allah, hebatnya Tauhid yang diperjuangkan dari zaman Rasullullah saw dan diteruskan sampai sekarang. Sebetulnya apa yang dilakukan oleh nabiyullah Muhammad saw adalah meneruskan dan menyempurnakan ajaran-ajaran Tauhid yang dibawa oleh nabi Isa as, yang dibawa oleh nabi Musa as, yang dibawa oleh nabi Ibrahim as, yang dibawa oleh nabi Nuh as. Semuanya ada disempurnakanlah pada zaman nabi terakhir nabi Muhammad saw. Karena itulah nabiyullah Muhammad saw pun melaksanakan ibadah haji ke tanah suci.

Sahabat-sahabat sekalian, berangkatnya nabi Muhammad saw ke tanah suci untuk berhaji adalah untuk menyempurnakan dakwah beliau dalam menegakan tauhid, untuk menggenapkan Islam yang sempurna. Itulah kenapa beliau menyelenggarakan ibadah haji. Sekaligus adalah itbah, sekaligus adalah penghormatan kepada pendahulunya nabiyullah Ibrahim as.

Sahabat-sahabat sekalian, perginya nabiyullah Muhammad saw ke tanah suci adalah untuk menyempurnakan ibadah beliau, menggenapkan dakwah beliau, sekaligus untuk memberitahukan kepada seluruh penjuru dunia bahwa umat Islam adalah umat yang bersatu, umatan wahidatan, umat yang bersatu. Jadi ke tanah suci ini adalah menunjukan bahwa umat Islam adalah umat yang bersaudara, bersaudara, tidak melihat dari asal negaranya, tidak melihat dari warna kulitnya, pangkat dan jabatan. Semuanya berpakaian sama sebagai hamba Allah untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa umat Islam itu bersatu, bersatu. Untuk menunjukan bahwa umat Islam itu hebat, bersatu.

Inilah rasullullah saw mencontohkan bahwa ke tanah suci adalah untuk menghormati napak tilasnya nabiyullah Ibrahim as, seorang nabi pendahulu yang merupakan nabi yang memperjuangkan tauhid, memperjuangkan tauhid untuk seluruh umat. Meskipun ayahandanya tidak termasuk orang-orang yang bermuslim yang men-tauhidkan Allah, tapi justru nabiyullah Ibrahim as bertentangan dengan ayahnya, nabi Ibrahim as justru men-Tauhidkan Allah. Nabiyullah Ibrahim as hanya menuhankan Allah dan meninggalkan seluruh keinginan-keingainan dunianya, meninggalkan seluruh keinginan-keinginannya hanya untuk Allah, untuk memenuhi panggilan Allah. Harta-hartanya, istri-istrinya ditinggalkan hanya untuk memenuhi panggilan Allah, memenuhi panggilan Allah.

Nabiyullah Ibrahim as, ada sebagian orang yang dianggap sebagai nabi yang salah, karena mengabaikan kemanusiaan meninggalkan istrinya. Tapi nabiyullah Ibrahim as adalah Kholillullah, semata-mata untuk Allah, hanya untuk Allah, bahkan anaknya pun diminta oleh Allah.

Itulah motivasinya berangkat haji ke tanah suci karena untuk menggenapkan ketauhidan kepada Allah, memenuhi panggilan Allah. Karena itu sahabat-sahabat sekalian, tak usahlah kau ber-maksa-maksa pergi haji, tak usahlah kau menjual-jual apapun hanya untuk pergi haji ke tanah suci kalau tauhidmu belum lurus, agamamu belum hanif, ibadahmu belum istiqomah. Luruskan dulu niatmu, luruskan dulu setelah semuanya hanya murni untuk Allah, hidup dan matimu hanya untuk Allah. Apabila kalian sahabat-sahabat ana telah melaksanakan komitmenmu, istiqomahmu, bacakan: inna sholati wa nusuki wa ma yahya wa ma mati lillahi robbil alamiin, barulah anda-anda semua pergi haji ke sana, barulah nanti akan ada panggilan Allah yang sebenarnya karena motivasi yang kuat untuk menggenapkan tauhid, untuk memperlihatkan kekuasan Allah di tanah suci itu, untuk menghormati perjuangan sesepuhmu, abahmu, abahmu... nabiyullah Ibrahim abahmu. Disitulah berangkatnya ke tanah suci, nabiyullah Ibrahim mendoakan agar seluruh umat manusia bersatu memperjuangkan tauhid.

Jadi sahabat-sahabat sekalian, demi Allah yang telah menciptakan hamba, demi Allah yang telah menciptakan hamba, demi Allah yang telah memberikan hamba hidayah, demi Allah yang telah menciptakan seluruhnya alam semesta ini, demi penghormatan hamba kepada Rasullullah saw, demi penghormatan hamba kepada pimpinan majelis yang disini. Antum-antum walaupun sekarang ini antum belum berangkat haji ke tanah suci, sesungguhnya antum telah mengikuti jejak langkahnya abah antum nabiyullah Ibrahim as yang sebenarnya, yang sebenarnya.

Para malaikat-malaikat Allah mendoakan kepada jemaah haji yang berangkat ke tanah suci, tapi Allah punya kuasa, Allah punya ketentuan, sehingga qudrat Allah mendahului doa-doa kami, termasuk juga doanya para malaikat-malaikat yang ada disini. Allah menentukan bahwa mereka yang ada disitu harus mengalami musibah, musibah, musibah.... Malaikat Allah bertanya-tanya: “Ya Robbana Ya Robbi, mengapa mereka orang-orang itu yang berangkat haji ke tanah suci, berangkat ke Mekkah al-Muqaromah tapi mendapat hal-hal musibah yang sedemikian mengerikan?” Lalu malaikat-malaikat itu mendapat jawaban dari Allah: “Hai malaikat-malaikatKu, tauhidnya mereka tidak sempurna.”

Tauhidnya mereka tidak sempurna, tauhidnya mereka tidak sempurna. Sahabat-sahabat, antum harus punya peran, antum harus punya niat yang kuaat untuk mengajarkan tauhid yang diajarkan oleh abah antum nabiyullah Ibrhim as. Mereka yang berangkat ke tanah suci itu hanya sekedar menghabiskan uang dan jalan-jalan, bukan pergi haji yang sebenarnya. Ada yang jalan-jalan karena uang sudah cukup, ada yang minta sesuatu, ada yang minta sesuatu, ada yang minta sesuatu. Bukan atas dasar: inna sholati wa nusuki wa ma yahya wa ma mati lillahi robbil alamiin, bukan itu sahabat. Sehingga malaikat-malaikat Allah tidak berkuasa menolak azab Allah, sehingga malaikat-malaikat Allah tidak berkuasa. Doa malaikat-malaikat Allah tidak sampai ke langit didahului oleh ketentuan Allah bahwa mereka harus menerima azab, bahwa mereka harus mengalami musibah yang seperti itu. Lalu ada yang bertanya kepada Allah: “Ya Robbi bagaimana nasib orang-orang yang seperti itu? Yang berangkat ke tanah suci Mekkah al-Muqaromah?” tapi mereka hanya takjub, hanya takjub dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Sesungguhnya pada sahabat-sahabat sekalian, antum berangkat dari rumah ke tempat ini bersama sahabat ana, pimpinan majelis di tempat ini. Antum disini, walaupun belum pernah pergi haji kesana, sesungguhnya antum-antumlah yang pergi haji, antum-antumlah sahabat yang pergi haji sebenarnya. Memang jarak jauh ke Mekkah al-Muqaromah. Ana berdoa kepada Allah, ana memohon kepada Allah antum-antum suatu waktu bisa singgah ke Mekkah al-Muqaromah, pergi haji ke Mekkah al-Muqaromah, karena sudah jadi doanya abah antum Ibrahim as pergi haji harus ke Mekkah al-Muqaromah bukan di tempat lain. Namun demikian meskipun antum-antum belum sempat pergi ke Mekkah al-Muqaromah, perginya antum untuk bertemu dengan sahabat ana disini membahas tentang ketauhidan, memperjuangkan tauhid berarti antum telah mengikuti jejaknya Nabiyullah Ibrahim as pahalanya dan keridloan Allah sama dengan mereka yang pergi ke tanah suci. Itulah sahabat-sahabat tingginya nilai tauhid, tingginya nilai tauhid.

Ana sengaja karena ana selalu mendengar, ana selalu mendengar. Ana pernah bertemu, nanti guru antum akan menjelaskan siapa ana, ana pernah bertemu dengan beliau di hijr Ismail, ana pernah bertemu dengan beliau. Ana katakan: “kenapa antum ada disitu?” beliau sudah ditawarkan untuk menjadi pemimpin tauhid di republik ini, tapi sahabat ana itu menunggu qudrat Allah, memasrahkan semuanya kepada Allah. Orang-orang minta ke situ, orang-orang minta di hijr Ismail, tapi orang minta di tempat-tempat yang mustajab, gurumu diberikan mandat tapi tidak mau kalau bukan atas ijin Allah.

Kami-kami menawarkan pada saat itu, tapi beliau menjawab: “Tidak! Kalau bukan atas kehendak Allah” itulah sahabat.

Ana saja yang jauh-jauh datang ke sini Indonesia, antum-antum kalau mendengar guru antum... ah, orangnya seperti itu, ah tidak punya kendaraan apa-apa, ah rumahnya ngontrak ah.... lalu siapa yang bicara sahabat? Siapa itu gurumu itu? Yang pernah berjumpa dengan ana disana itu, siapa? Cobalah sahabat kalau beliau bicara itu didengarkan dari yang paling dalam dan diringi dengan zikrullah. Itu siapa yang bicara itu? Jangan dilihat hanya orangnya saja? Ana sendiri takjub karena adanya di Indonesia, di negara antum, adanya di Indonesia tidak ada di negara ana: inilah orangnya sahabat. Jasanya banyak sahabat, jasa beliau banyak bagi Mekah al-Muqaromah dan negara-negara di tanah Arab. Beliau selalu menggunakan peci, kami ingat inilah beliau.

Sahabat, sekali lagi untuk menjawab pertanyaan yang tadi itu: bahwa Allah belum memberikan rahmat untuk bangsa dan negaramu sekalian sahabat. Allah belum menurunkan rahmatNya untuk bangsamu, meskipun berpuluh-puluh juta setiap tahun berangkat ke tanah suci, meskipun mesjid penuh beramai-ramai setelah azan penuh beramai-ramai di mesjid-mesjid, meskipun para ulama dan syaikh-syaikh berkumpul di lapangan untuk berdoa, semuanya sia-sia kalau bukan motivasi karena Allah, kalau bukan atas dasar panggilan Allah.

Sholatnya, ibadahnya, pergi hajinya karena panggilan Allah, itulah sholat gurumu karena panggilan Allah. Itulah semuanya adalah panggilan Allah, rumah tangganya, nikahnya, berangkatnya, itu semuanya adalah panggilan Allah. Kalau saja ada yang seperti gurumu itu satu, dua atau tiga, tak usahlah banyak-banyak insya Allah cukuplah Indonesia seperti yang dahulu pernah digelorakan beliau. Harum namanya Indonesia ini di timur tengah, bahkan harum sampai ke tanah Mekkah al-Muqaromah.

Sahabat itulah jawabannya: mereka yang pergi ke tanah suci sekarang ini bukan atas dasar panggilan Allah, bukan atas dasar panggilan Allah, karena mereka belum menggenapkan niatnya, sholatnya, zakatnya, belum untuk menggenapkan itu, belum menggenapkan itu. Lalu tiba-tiba pergi haji karena uangnya sudah cukup untuk pergi haji, tidak berpengaruh apa-apa terhadap turunnya rahmat bagi bangsa dan negara Indonesia. Ketauhidan kami-kami di tempat kami, dulu adalah berkatnya nabiyullahi Ibrahim as, tapi sesugguhnya ketauhidan, tauhid yang diperjuangkan oleh abahmu Ibrahim as itu akan bermuara tumbuh mekar di tempatmu di negara republik ini disini, bukan di tanah kami, bukan di tanah kami.

Karena itu akan banyak dari negara-naga kami, akan banyak syaikh-syaikh datang berkunjung ke tanahmu untuk menyaksikan firman Allah, kebenaran firman Allah bahwa ketauhidan pada Allah , mulianya syariat Allah muncul tumbuh berkembang sempurna di republikmu Indonesia.

Itulah sahabat, hamba bermohon, hamba manusia biasa bermohon kepada Allah untuk kalian-kalian sekalian tolong jangan engkau jauh-jauh dari gurumum, tolong jangan engkau pergi jauh-jauh dari gurumu. Berangkatlah seperti ikhlasnya berangkat dari rumah untuk bertawajuh kepada Allah untuk bertauhid kepada Allah, lalu pulang ke rumah untuk mengajarkan tauhid itu kepada keluargamu, masyarakat dan bangsamu. Meskipun antum-antum belum berangkat ke tanah suci, tapi pahala dan keridloan Allah sudah sama satu derajat dengan abahmu. Hamba manusia biasa bersama dengan malaikat-malaikat yang hadir di tempat ini bermohon kepada Allah azza wajala agar antum murid-murid beliau ini bisa menginjakkan kaki ke tanah suci.

Ana mohon maaf kepada pimpinan majelis ini kalau ucapan ana kasar, ana mohon maaf. Billahi taufiq wal hidayah wassalamu ‘alaikum wr. wb.


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 12.35