Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 14 Desember 2015

Melampaui Segala Batasan

Batasan adalah sesuatu yang kita ciptakan dalam pikiran kita, sehingga kemudian pikiran kita memerintahkan agar kita tidak melampaui batasan yang sesungguhnya adalah buatan kita sendiri. Contoh dari batasan itu misalnya adalah: untuk menyembuhkan penyakit maka kita memerlukan obat yang mujarab, obat yang mujarab itu diperoleh dengan cara berobat ke dokter. Atau contoh lainnya adalah: untuk supaya memiliki energi yang cukup maka tubuh harus makan, tanpa makan maka tubuh tidak akan memiliki energi dan ketahanan terhadap penyakit.

Sahabat sekalian, sebenarnya batasan itu tidak ada. Kita sendiri lah yang membuatnya sehingga pikiran kita mensugesti kita untuk tidak bisa keluar dari batasan tersebut. Pada hakekatnya batasan itu tidak ada. Seorang manusia bisa sembuh dari penyakitnya tanpa obat, dan tubuh kita bisa memiliki energi yang cukup dan segar bugar walaupun dengan asupan makanan yang sangat sedikit sekali.

Dalam hal ini guru menerangkan bahwa ada sumber lainnya yang dapat menyembuhkan penyakit atau memberikan energi bagi tubuh: yaitu Iman yang sangat kuat dan Tauhid kepada Allah swt. Apabila anda memiliki suatu keyakinan yang sangat kuat kepada Allah swt, maka keyakinan tersebut bisa menjadi obat bagi segala macam penyakit, atau sumber energi bagi tubuh anda agar tetap bugar dan sehat.

Guru juga menganjurkan kepada murid-muridnya untuk mengurangi makan dan menekan hawa nafsu. Tidak perlu harus kaku dalam menerapkan syariat, karena puasa pada hakekatnya adalah menahan hawa nafsu. Melaksanakan syariat puasa dari fajar sampai terbenam matahari, lalu setelah itu kita makan sebebas-bebasnya, melampiaskan hawa nafsu, bukanlah merupakan sesuatu yang bermanfaat. Karena hakekat dari puasa untuk mengendalikan dan menahan hawa nafsu tidak tercapai. Dalam hal ini guru mengajarkan murid-muridnya untuk senantiasa menahan hawa nafsu, menahan lapar dan tidak makan kecuali memang tatkala Allah telah menggetarkan hati nurani kita untuk makan, hanya sekedarnya saja.

Setelah selasai makan maka teruskanlah puasa yaitu dengan mengendalikan dan menahan hawa nafsu kita, jangan diberikan kesempatan untuk mengumbar hawa nafsu karena dia akan membawa kerusakan dan menjerumuskan. Dengan demikian maka seolah-olah kita senantiasa dalam keadaan puasa. Puasa selamanya.

Begitulah caranya apabila kita hendak meningkatkan kualitas diri kita, harus lentur dalam melaksanakan syariat. Waspada dan senantiasa mengendalikan diri dari mengumbar hawa nafsu.

Itulah beberapa latihan dalam pelajaran Tauhid kepada Allah. Tubuh senantiasa dalam keadaan berpuasa, sedangkan hati senantiasa berzikir mengingat Allah. Tidak ada henti-hentinya.

فَإِذَا قُضِيَتْ الصَّلاَةُ فَانتَشِرُوا فِي الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS 62:10)

Jadi mengingat Allah bukan hanya pada saat beribadah saja, melainkan di setiap saat, pada waktu bekerja dan pada waktu istirahat ingatlah Allah sebanyak-banyaknya. Seperti orang yang senantiasa sholat, sholat yang dilakukan selama-lamanya. Sholat Dhaim. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.41