Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 15 Desember 2015

Jihad Terbesar

Pada tahun kedua setelah Rasullullah saw hijrah ke Madinah, banyak sekali orang-orang Islam yang tertinggal di Mekah disiksa dan bahkan dibunuh oleh kaum kafir Quraisy. Mereka menghalangi dan menentang dakwah Islam yang dibawa oleh Rasullullah saw, sehingga kaum kafir Quraisy itu sejumlah sekitar 1000 orang berangkat ke Madinah dengan maksud ingin memerangi kaum muslimin di kota itu.

Perang tidak dapat dihindarkan lagi, sehingga demi untuk mempertahankan diri karena diperangi oleh kaum kafir Quraisy dibawah komando Abu Sufyan maka umat Islam maju berperang dibawah komando langsung Rasullullah saw, yang kemudian dinamakan perang Badar.

Perang itu begitu dashyatnya, sekitar 1000 orang kafir Quraisy dihadapi oleh hanya 315 umat muslim dari kota Madinah. Ada 14 orang dari kaum muslimin gugur, sedangkan di pihak kafir Quraisy korban terbunuh adalah lebih dari 70 orang.

Kemenangan ada di pihak kaum muslimin, dan orang-orang kafir Quraisy melarikan diri dari medan peperangan kembali ke Mekah dengan menanggung kekalahan.

Pada saat Rasullullah saw dan para sahabatnya baru kembali menuju kota Madinah, beliau mengatakan bahwasanya mereka baru saja kembali dari jihad yang kecil untuk kemudian menuju kepada jihad yang besar. Para sahabatnya bertanya: apakah itu gerangan jihad yang besar? Beliau menjelaskan bahwa jihad yang besar adalah menahan hawa nafsu.

Demikian juga guru menjelaskan bahwa jihad terbesar bukanlah perang, atau bukan pula menjadi teroris, tapi jihad yang terbesar adalah memerangi hawa nafsu.

Sahabat-sahabat sekalian, memerangi hawa nafsu tidaklah sama seperti misalnya berpuasa. Berpuasa menahan diri agar tidak makan dan minum serta melakukan perbuatan yang membatalkan puasa sepanjang siang hari, bukanlah merupakan perbuatan memerangi hawa nafsu. Karena setelah malam hari ketika waktu berbuka puasa telah lewat, biasanya orang-orang akan melampiaskan hawa nafsu. Hawa nafsu untuk makan/minum dan juga nafsu lainnya. Jelas hal ini bukanlah suatu sikap diri memerangi hawa nafsu.

Banyak orang yang mampu untuk berpuasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari, dari anak-anak kecil sampai dengan orang dewasa. Akan tetapi sikap hidup untuk senantiasa memerangi hawa nafsu, tidak semua orang mampu melakukannya.

Nafsu makan, nafsu amarah, nafsu untuk mengejar kepuasan adalah sebagian dari sesuatu yang harus kita kuasai, kita kurangi dan kendalikan. Sehingga hidup akan menjadi bertambah ringan dan jauh dari malapetaka dan kehancuran oleh karena akibat memperturutkan hawa nafsu.

Tidak semua orang berhasil melintasi ujian untuk memerangi hawa nafsu ini, jumlahnya hanya sedikit sekali. Mereka yang berhasil dalam memerangi hawa nafsu: itulah mereka pejuang Islam yang sebenarnya, pejuang jihad yang terbesar.

Wajah mereka terlihat sangat ramah dan murah senyum karena sudah terbebas dari nafsu amarah, sehingga setiap orang akan menyenanginya. Begitulah kiranya wajah-wajah para sahabat setia dan Rasullullah saw. Apabila mereka berbicara maka isinya adalah sangat menyejukan hati, membuat hati ini menjadi dingin dan tenteram, dengan tutur kata yang lembut dan penuh dengan kesantunan.

Coba bandingkan dengan wajah para syaikh pimpinan komando jihad zaman sekarang, dengan jenggot yang teramat lebat, tatapan mata yang tajam dan raut muka yang menyeramkan. Muka-muka mereka dipenuhi dengan rasa amarah dan kebencian, kebencian terhadap kaum Yahudi dan orang-orang non-Islam dari AS atau dari Eropa. Apabila mereka berbicara maka nada bicaranya berapi-api, panas menggelora membakar semangat dan emosi para jamaahnya, agar mereka semua terbakar semangatnya untuk bangkit melawan musuh-musuh Islam yaitu kaum Yahudi dan Nasrani.

Para sahabat-sahabat sekalian, hidup kita adalah pilihan kita. Terhadap 2 kenyataan di atas tadi, manakah yang anda akan pilih?

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasullullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS 33:21)

Sahabat-sahabat sekalian, banyak-banyaklah berdiri di depan cermin, tengoklah wajah anda sendiri. Apakah saya termasuk orang yang ramah dan murah senyum? (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.04