Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 21 Desember 2015

Nabi dari Kaum Buta Huruf

Di sepanjang zaman, sebenarnya selalu ada orang atau beberapa orang yang masih buta huruf. di dunia saat ini masih ada sekitar 775 juta orang buta huruf dan sekitar 6,1 juta diantaranya ada di Indonesia.

Apabila anda berkenan untuk bepergian menuju pelosok daerah yang cukup terpencil, maka mungkin anda dapat menemukan suatu kelompok masyarakat yang tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Mereka tidak bisa membaca atau menulis, itulah masyarakat yang buta huruf. Dan jikalau anda memperhatikan sekali lagi lebih teliti masyarakat tersebut, mereka itu begitu polos, lugu dan apa adanya. Begitulah masyarakat yang masih murni, jauh dari kelicikan atau kebohongan serta kepura-puraan. Masyarakat yang jujur apa adanya.

Bandingkan dengan masyarakat modern yang tinggal di kota, penuh dengan kecerdikan dan dekadensi moral (ketidakjujuran terhadap kenyataan hidup). Pribadi sebagian besar masyarakat perkotaan sudah dikotori dengan pandangan hidup yang cenderung untuk mementingkan keuntungan pribadi, masa bodoh terhadap lingkungan sekeliling dan tidak perduli dengan keadaan sekitarnya. Perspektif pemikiran masyarakat perkotaan yang individualistis itu menjadikannya sebagai masyarakat yang kurang memiliki kepekaan perasaan. Oleh masyarakat modern itu, perasaan tidak terlalu dipedulikan, mereka lebih mementingkan aspek logika dan pemikiran rasional.

Perbedaan yang mencolok tersebut antara masyarakat pelosok yang masih buta huruf dengan masyarakat modern adalah bagaikan bumi dan langit. Di kota uang adalah segalanya, harta yang melimpah dan kekayaan adalah tujuan hidup bagi kebanyakan orang. Rasio dan logika adalah merupakan potensi diri yang dieksploitasi untuk kepentingan tersebut. Sebaliknya di desa pelosok tempat masyarakat buta huruf tadi, kekayaan bukanlah tujuan, mereka tidak memerlukan kekayaan. Orang tidak perlu menjadi kaya untuk dapat merasakan kebahagiaan dan ketentraman hidup.

Apa yang terjadi apabila orang dari masyarakat kota bertemu dengan seseorang dari masyarakat buta huruf? Bisa anda bayangkan bahwa orang kota dari masyarakat modern itu akan sulit sekali untuk dapat menerima input dan pendapat dari orang desa tersebut, orang yang buta huruf.

Apabila suatu ketika anda bertemu dengan orang seperti itu, lugu, polos dan buta huruf. Kemudian orang tersebut mengatakan kepada anda bahwa cara hidup, cara beribadah dan cara beragama yang anda lakukan saat ini adalah keliru. Orang itu mengatakan bahwa apa yang selama ini disembah oleh orang-orang di kota itu pada hakekatnya adalah menyembah berhala. Dengan sekolah yang tinggi dan gelar akademik yang disandang oleh orang-orang di kota, tapi sebenarnya menurut orang desa yang buta huruf tadi justru masyarakat kota sebenarnya berada dalam kebodohan, karena tidak mengerti siapa diri mereka yang sebenarnya, dari manakah mereka berasal dan akan kemanakah tujuan hidup mereka. Nah, mendengar perkataan seorang butu huruf dari pelosok desa seperti itu, bagaimana reaksi anda? Emosi dan naik pitam? atau barangkali tidak menggubrisnya sama sekali?

Begitulah kira-kira tatkala seorang buta huruf yang belum pernah bersekolah kemudian menasehati seorang dari masyarakat modern dengan pendidikan yang tinggi. Berat sekali untuk dapat diterima. Nah, apabila demikian halnya maka wajar saja seorang Abu Sufyan (pemuka dan tokoh masyarakat Mekkah) sangat sulit untuk dapat menerima ajakan seorang buta huruf seperti Nabi Muhammad saw.

Bayangkan, apabila anda menemui kelompok masyarakat kelas bawah, buruh, tani penggarap atau tukang becak. Lalu tiba-tiba diantara kelompok masyarakat yang buta huruf tersebut ada seseorang yang mengaku diangkat oleh Allah swt menjadi Nabi. Reaksi anda akan seperti apa? Tidak pernah menduga sama sekali?

Nah, begitu juga halnya dengan reaksi masyarakat Yahudi dan Nasrani ketika mendengar ada seorang dari masyarakat buta huruf di pelosok Mekkah, ternyata kemudian ada yang mengaku menjadi Nabi dan Rasul terakhir. Sungguh tidak disangka sama sekali.

Sahabat-sahabat sekalian, apakah anda sudah cukup dekat bergaul dengan masyarakat buta huruf dari kalangan bawah saat ini? Mungkin saja justru dari kalangan merekalah Allah akan menunjuk salah seorang diantaranya yang akan menjadi pemimpin di negeri ini dan yang akan membawa kemakmuran serta kesejahteraan negeri ini dan menyelamatkan negeri ini dari kehancurannya.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ
كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”(QS 62:2) (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.35